Home

Want to know more about the Conference of Parties (COP) 13 UNFCCC in Bali click here
10 September 2010 - 2:53 am  

Di Balik Sangkar Burung
 
24-11-2008

Oleh Rachma Tri Widuri

Tak banyak orang menyadari bahwa di balik hobi memelihara burung yang terkesan gampang dan sederhana, ada uang miliaran rupiah yang hilir-mudik. Kelihatannya memang hanya seekor perkutut, tapi... ada miliaran rupiah di belakang sangkarnya.

Dari hitung-hitungan tim survei birdkeeping di enam kota besar di Indonesia, ternyata ongkos pelihara burung memang tidak sedikit. Dalam setahun, jumlahnya mencapai angka 83 juta dollar AS lebih atau sekitar 750 miliar rupiah. Itu baru di Denpasar, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Bandung dan Jakarta. Jika mengasumsikan semua perkotaan (urban area) di Indonesia memiliki karakteristik sama, maka angkanya bisa menjadi 402,6 juta dollar AS lebih atau sekitar Rp 3,63 triliun.

Kalau diperinci, ongkos yang dikeluarkan pemelihara burung itu dipakai untuk membeli burung, membeli sangkar, peralatan penunjang lainnya, pakan, buah-buahan, vitamin, vaksin, dan obat. Artinya, ada pembuat dan penjual sangkar, pedagang pakan dan obat, penjual kaset, dan jutaan sanak keluarganya yang ikut menyambung hidup dari burung. 

Jangan keburu menelan ludah atau geleng kepala tak habis-habis. Hobi memelihara burung, seperti halnya hobi-hobi yang lain, memang terhitung mahal. Anehnya, hobi ini tak pandang bulu alias melintasi batas-batas sosial-ekonomi. Artinya, mulai dari kelas bawah sampai kelas atas, sama-sama menekuni hobi ini. Orang dengan penghasilan pas-pasan pun mau-mau saja merogeh kocek lebih untuk menghidupi burungnya agar sehat, demi hobi yang satu itu.

Biarpun burung tergolong hewan yang makan sedikit, yang namanya jagung atau biji-bijian lainnya itu kan tetap harus dibeli. Biarpun juga burung tak harus ke salon sebulan sekali, namanya desinfektan atau suplemen lainnya toh tetap harus dibayar. Ada juga biaya membeli majalah dan biaya perjalanan kalau sang pemilik sangat hobi ikut bermacam lomba. Begitu pula soal piknik. Sama dengan empunya, burung pun perlu sedikit jalan-jalan agar tidak jenuh di rumah.

Buat burung berkicau yang gemar berkompetisi di ajang adu merdu, ongkosnya bisa lebih mahal lagi. Layaknya atlet yang akan berlaga di Olimpiade, burung pun butuh pelatih sebelum berlomba. Biaya untuk pelatih vokal, jelas tak sedikit. Untuk menyiasati soal ini, pemilik burung juga bisa memanfaatkan jasa kaset atau CD sebagai pelatih. Suara merdu di kaset itu lah yang akan ditirukan burung kesayangan. Ini artinya, lagi-lagi, anggaran tersendiri. 

Kalau sudah banyak anggaran begini, total jenderal uang yang beredar demi burung kesayangan bisa miliaran bahkan triliunan rupiah. Jangan disangka burung hanya hobi kelas kambing. Buktinya, di balik sangkarnya yang mungil, ada uang segepok. Di balik sangkar itu pula ada jutaan pasang mata yang menyandarkan hidup mereka pada burung.*

Salah satu artikel yang diambil dari Majalah Burung Nomor 4 Edisi Maret 2007, PDF (505 kb) tersedia dan dapat didownload.

download media:

Di Balik Sangkar Burung.pdf

 

Lainnya :
 
Penangkaran Murai Batu di Jambi Gagal
Orange-headed Thrush Zoothera citrina and the avian X-factor
Foto Fahrul P. Amama
Foto Nick Hall 2
Foto Nick Hall 1

lainnya...
 
 
Copyrights © 2004 - Burung Indonesia