Tentang BIBerita & AgendaProgramPusat DataKeanggotaanMerchandisesLinksBirdkeeping

pada


10 September 2010 - 2:44 am  

Gambaran Lokasi Program Sumba

EBA: ID 163 (Sumba)

IBA: NID 30 (Manupeu Tanadaru)

Spesies burung endemik: Tumix everetti (Gemak sumba), Treron teysmannii (Punai sumba), Ptilinopus dohertyi (Walik rawamanu), Ninox rudolfi (Punggok wengi), Ninox sumbaensis (Punggok sumba), Rhyticeros everetti (Julang sumba), Ficedula harterti (Sikatan sumba), Nectarinia buettikoferi (Burung-madu sumba).

Spesies flora: Tipe vegetasi utama adalah hutan musim luruh-daun, namun terdapat juga sebagian hutan hujan tropis semi-awet hijau (Stattersfield et al., 1998). Beberapa spesies tumbuhan yang terdapat di Sumba antara lain: Kadhururara (Palaquium obovatum), Kiru (Dysoxylum caulostachium), Kihi (Canarium oleosum), Laru (Myristica litolaris), Tamiang (Pometia tomentosa) dan jenis-jenis keluarga Ficus.

Peta sumbaGambaran umum: Secara administratif Pulau Sumba terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur, dan terbagi atas empat kabupaten yakni Sumba Barat, Sumba Timur, Sumba Tengah, dan Sumba Barat Daya. Pulau ini terletak sekitar 96 kilometer sebelah selatan Flores, 295 kilometer barat daya Timor, dan 1.125 kilometer sebelah barat laut Darwin, Australia. Secara geografis, Pulau Sumba terletak antara 118 55'48" dan 120 51'06". Bujur Timur, serta 9 16'48" dan 10 19'12" Lintang Selatan. Pulau ini memiliki panjang 210 kilometer dengan luas daerah sekitar 10.854 Km2 persegi. Daerah ini merupakan pulau berbukit-bukit yang sebagian besar wilayahnya berada pada ketinggian di bawah 1.000 meter dpl. dengan puncak tertinggi 1.225 meter dpl. di Gunung Wanggameti dan sebagai titik utama penyedia sumber air tanah untuk Pulau Sumba.

Secara geologi, pulau ini terbentuk dari fragmen crustal dan batu kapur, yang sangat berbeda dengan pembentukan pulau-pulau lain di Nusa Tenggara yang berasal dari batuan vulkanik. Sumba memiliki tipe iklim musiman dengan musim kering yang lebih panjang.

Taman Nasional Manupeu Tanadaru
Manupeu Tanadaru ditunjuk menjadi taman nasional bersamaan dengan penunjukkan kawasan Taman Nasional Laiwanggi Wanggameti (yang juga berada di Pulau Sumba) pada tahun 1998, melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor: 576/Kpts-II/1998 tentang 'Perubahan fungsi sebagian kawasan cagar alam, hutan lindung, hutan produksi terbatas seluas ±134.998,09 hektar menjadi kawasan Taman Nasional Manupeu Tanadaru seluas ±87.984,09 hektar dan kawasan Taman Nasional Laiwanggi Wanggameti seluas ±47.014,00 hektar yang terletak di Kabupaten Daerah Tingkat II Sumba Barat dan Kabupaten Daerah Tingkat II Sumba Timur, Propinsi Daerah Tingkat I Nusa Tenggara Timur'.

Kawasan Taman Nasional Manupeu Tanadaru (TNMT) merupakan penggabungan beberapa kawasan hutan, yaitu Hutan Lindung Manupeu (9.500 hektar), Hutan Lindung Tanadaru-Praimamongutidas (43.750 hektar), Hutan Produksi Terbatas Praingpalindi-Tanadaru (10.534 hektar), dan Cagar Alam Langgaliru (24.750 hektar).

Secara geografis, kawasan TNMT berada antara 119028'12" - 119053'24" Bujur Timur dan 9034'48"- 9059'24" Lintang Selatan. Kawasan berada di bagian selatan Pulau Sumba, berbatasan langsung dengan daerah pesisir. Ketinggian kawasan dari permukaan laut antara 0 sampai 950 meter. Bagian terendah berada di pesisir pantai di bagian selatan, sedangkan kawasan tertinggi adalah puncak Tanadaru di bagian utara. Topografi umumnya berupa bukit-bukit kecil dan hamparan padang ilalang, namun banyak juga lereng-lereng terjal yang cukup tajam di bagian tengah kawasan yang membujur dari barat ke timur.

Kawasan ini memiliki tipe-tipe vegetasi berupa hutan primer, hutan sekunder yang juga umumnya merupakan hutan musim, padang alang-alang dan semak, maupun padang rumput dan bekas lahan pertanian masyarakat yang telah ditinggalkan. Tipe habitat hutan juga cukup bervariasi, seperti hutan pantai dan mangrove di sebagian pesisir dan muara sungai. Namun sebagian besar merupakan hutan dataran rendah (0-950 meter di atas permukaan laut) dalam bentuk blok hutan utuh/besar ataupun.

Kawasan TNMT merupakan habitat terpenting bagi burung-burung di Sumba. Catatan Burung Indonesia menunjukkan, di dalam kawasan ini terdapat paling tidak 120 jenis burung yang meliputi 48 keluarga. Tutupan hutan di kawasan TNMT merupakan salah satu dari sedikit daerah berhutan yang tersisa di Pulau Sumba. Beberapa blok hutan di dalam kawasan sudah terfragmentasi. Dalam kondisi dikelilingi oleh pemukiman dan lahan pertanian masyarakat, Manupeu Tanadaru menjadi salah satu pertahanan terakhir habitat alami burung-burung di Sumba.

© 2004-2010, Burung Indonesia, hak cipta nama, logo, dan karya dilindungi Undang-undang
Last updated: 09 September 2010 - Rancangan laman oleh Burung Indonesia - Kontak laman: webmaster (at) burung.org
Burung Indonesia adalah mitra BirdLife International di Indonesia