Tentang BIBerita & AgendaProgramPusat DataKeanggotaanMerchandisesLinksBirdkeeping

pada


10 September 2010 - 2:31 am  

Finalis Ernst & Young Social Entrepreneurship 2009
 
20-11-2009

FOTO: Dok. BI
Sukianto Lusli, Direktur Eksekutif Burung Indonesia

Direktur Eksekutif Burung Indonesia (Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia), Sukianto Lusli, Rabu (18/11) menjadi salah satu finalis penerima anugerah Ernst & Young Social Entrepreneur Of TheYear. Meskipun tidak menjadi pemenang, terpilihnya Direktur Eksekutif Burung Indonesia sebagai salah satu finalis, telah memberikan dorongan dan pengakuan bagi Burung Indonesia yang telah mengupayakan kewirausahaan konservasi melalui inisiatif restorasi ekosistem untuk pelestarian hutan alam di Indonesia.

Sukianto Lusli bersanding bersama 13 orang wirausahawan (entrepreneur) berdedikasi tinggi lainnya, yang dinilai layak untuk menjadi inspirasi bagi entrepreneur muda lainnya. Mereka antara lain adalah Manoj Punjabi dari MD Entertainment, Pia Alisjahbana dari PT Gaya Favorit Press, Rizwan Halim dari PT Travira Air, Evelina Fadil Pietruschka dari PT Asuransi Jiwa Adisarana WanaArtha, juga Amir Panzuri dari APIKRI, dan Erie Sudewo dari Dompet Dhuafa Republika untuk kategori Social Entrepreneurship.

”Ini sungguh penghargaan yang sangat berarti bagi kami, juga menjadi bukti bagi semua orang bahwa pelestarian alam juga dapat menghasilkan manfaat ekonomi. Melestarikan hutan tidak selalu menghabiskan dana, tapi juga dapat mendatangkan manfaat berkelanjutan jika dikelola dengan baik,” kata Sukianto sesaat setelah menerima plakat finalis.  

Pihak Ernst & Young sendiri mengaku bangga dapat memilih finalis-finalis mumpuni yang merupakan wirausahawan inspiratif setiap tahun, dengan berbagai latar belakang yang berbeda dari waktu ke waktu. Menurutnya, penerima penghargaan adalah sosok berdedikasi tinggi yang memiliki visi ke depan sangat tajam demi keberhasilan institusinya. Para finalis berasal dari berbagai latar belakang mulai dari industri, lingkungan, dan juga kebudayaan.

”Para finalis tahun ini telah menunjukkan kontribusi yang signifikan kepada negara, dan berhasil membawa organisasi mereka menuju kejayaan. Kami bangga dapat bersama-sama mereka menumbuhkan kewirausahaan di Indonesia,” papar CEO Ernst & Young Indonesia, Giuseppe Nicolosi.

Conservation entrepreneurship

Sejak tahun 2002, Sukianto Lusli mulai memelopori pengembangan inisiatif restorasi ekosistem di hutan produksi di Indonesia, sebagai sebuah model baru dalam menyelenggarakan pelestarian hutan alam di kawasan dengan fungsi produksi. Dengan latar belakang ilmu biologi dan pengalaman kerja di bidang konservasi lebih dari 30 tahun, Sukianto meyakini bahwa apa yang dirintisnya tersebut akan memberikan sumbangan terhadap masa depan bangsa Indonesia. Melalui restorasi ekosistem yang sejatinya bertujuan memulihkan kondisi hutan alam yang terdegradasi menjadi lebih baik, Sukianto bersama rekan-rekannya di Burung Indonesia meyakini, hutan akan memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat, yang tidak kalah dengan memotong kayu.

Inisiatif restorasi ekosistem ini telah banyak mendapat dukungan dari berbagai pihak di tingkat nasional maupun internasional. Dari pemerintah, dukungan ini telah terwujud dalam bentuk kebijakan restorasi ekosistem, yang memungkinkan kawasan hutan produksi yang terdegradasi di Indonesia untuk dikelola dengan tujuan restorasi ekosistem. Dengan peluang dari kebijakan ini, Burung Indonesia bersama dengan Konsorsium BirdLife telah memperoleh konsesi pertama untuk restorasi ekosistem di hutan produksi di Indonesia yang diharapkan akan mencapai luasan kurang lebih 100.000 hektar di Jambi dan Sumatera Selatan. Langkah ini diharapkan akan diikuti oleh banyak pihak, yang tertarik untuk mengusahakan hutan tanpa menebang pohon.

Tak hanya berkutat pada restorasi ekosistem, Sukianto juga mengawal Burung Indonesia untuk lebih banyak berjuang pada konservasi burung dan habitatnya di Kawasan Wallacea (Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku). Di kawasan yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi ini, pelestarian hutan diyakini dapat memberikan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat sekitar; karena hutan adalah bagian dari sistem pendukung kehidupan. 

Upaya ini antara lain telah dilakukan di di Sumba, Sangihe, Talaud, Flores, Halmahera, dan Kepulauan Tanimbar. Sebagai contoh, dengan kerja sama seluruh pihak dan Burung Indonesia, masyarakat sekitar Taman Nasional Manupeu-Tanadaru, Sumba, dapat hidup lebih baik dengan memperoleh penghidupan di luar hutan. Mereka sangat mendukung keberadaan hutan di taman nasional, bahkan dengan sangat sadar memberantas pembalakan dan perburuan liar. Sehingga, hutan sebagai sumber air dan kehidupan pun tetap terjaga. Tentu saja, burung-burung dan satwa penghuni hutan pun lestari. Hutan dan alam lestari, maka kehidupan dan perekonomian masyarakat dapat lebih berkelanjutan. (RMA)*

 

Lainnya :
 
Press Release Burung Indonesia
Restorasi Ekosistem di Indonesia, Cara Efektif Mengurangi Emisi dari Deforestasi di Hutan Produksi
Menanti Bidadari Halmahera Menari
Ani Mardiastuti, Ahli Burung Liar Indonesia - Panggilan Hati dari Alam
Di Balik Deforestasi dan Degradasi Lahan

lainnya...
 

© 2004-2010, Burung Indonesia, hak cipta nama, logo, dan karya dilindungi Undang-undang
Last updated: 09 September 2010 - Rancangan laman oleh Burung Indonesia - Kontak laman: webmaster (at) burung.org
Burung Indonesia adalah mitra BirdLife International di Indonesia