Tentang BIBerita & AgendaProgramPusat DataKeanggotaanMerchandisesLinksBirdkeeping

pada


6 September 2010 - 2:08 pm  
 

PROGRAM BURUNG INDONESIA

Indonesia memiliki kekayaan spesies hidupan liar dan ekosistem yang tidak dijumpai di lokasi lain di dunia ini. Memiliki 27,500 spesies tumbuhan berbunga (10% dari total jumlah spesies tumbuhan berbunga dunia), 515 spesies satwa mamalia (12% dari total jumlah spesies satwa mamalia dunia), 511 spesies reptilia , 270 spesies amfibia (16% dari total jumlah spesies amfibia dunia) dan 1,598 spesies burung (17% dari total jumlah spesies burung dunia) memberikan gambaran betapa Indonesia menjadi salah satu pusat kekayaan keanekaragaman hayati dunia.

Melestarikan kekayaan tersebut menjadi satu hal penting untuk mencegah berlanjutnya kerusakan dan sekaligus menjamin ketersediaan sumber daya melalui penentuan strategi konservasi yang tepat. Pengidentifikasian daerah-daerah yang kaya akan keanekaragaman hayatinya menjadi salah satu bentuk strategi yang dapat dilaksanakan. Burung, dalam hal ini, menjadi salah satu indikator penting dalam mengidentifikasi daerah-daerah prioritas untuk membandingkan daerah yang satu dengan yang lainnya. Dengan informasi taksonomi spesies dan penyebaran terlengkap, burung menjadi indikator sempurna selain karena habitatnya yang berada di seluruh daratan bumi dan kepekaannya terhadap perubahan lingkungan.

Namun, strategi penyelamatan keanekaragaman hayati pun tidak hanya semata-mata didasarkan pada kekayaan spesies semata. Jumlah spesies dengan penyebaran terbatas, dalam hal ini burung, juga dapat menjadi salah satu faktor penentuan daerah prioritas penyelamatan keanekaragaman hayati tersebut. Hasil identifikasi spesies burung dengan sebaran terbatas dan analisis daerah-daerah pusat keendemikan burung memperlihatkan 218 daerah terkonsentrasinya spesies burung sebaran terbatas di seluruh dunia, yang dikenal dengan nama Daerah Burung Endemik (DBE). Indonesia memiliki 23 jumlah DBE yang merupakan jumlah terbesar di dunia. Jumlah DBE terbanyak di Indonesia terdapat di wilayah Wallacea yaitu sebanyak 10 DBE.

Penggunaan DBE sebagai perangkat perencanaan pelestarian keanekaragaman hayati telah membantu Burung Indonesia menentukan prioritas untuk penentuan lokasi program konservasinya. Saat ini, Burung Indonesia memiliki lima program lapangan yang berada di Pulau Sumba, Kepulauan Sangihe Talaud, Kepulauan Tanimbar, Pulau Halmahera, dan Mbeliling. Kelima program berada pada bioregion Wallacea. Pendekatan DBE, kekayaan jumlah spesies burung terancam punah dan tekanan terhadap habitatnya menjadi beberapa faktor penentu prioritas lokasi program Burung Indonesia tersebut.

Di sisi lain, tekanan dan ancaman terhadap hutan dataran rendah di Sumatra menjadi salah satu pokok bahasan global saat ini. Diperkirakan bahwa sisa luasan hutan dataran rendah di Sumatra hanya tersisa 500,000 ha saja. World Bank pada tahun 2000 memperkirakan bahwa hutan dataran rendah Sumatera akan habis dalam waktu yang sangat dekat jika tidak ada tindakan segera untuk menyelamatkannya. Hal ini mendorong Burung Indonesia bersama dengan BirdLife International dan Royal Society for the Protection of Birds (RSPB), memulai sebuah inisiatif pemulihan hutan dataran rendah di Pulau Sumatera. Inisiatif ini diimplementasikan melalui sebuah program restorasi ekosistem hutan yang akan menjadi model pengelolaan kawasan hutan, khususnya hutan produksi, secara lebih lestari dan berkelanjutan. Konsep ini adalah yang pertama kalinya di Indonesia, bahkan di dunia, yang menjadi harapan baru penyelamatan hutan dataran rendah Sumatera.

Secara umum, keberadaan program Burung Indonesia memang tidak terlepas dari tujuan pelestarian ekosistem, khususnya hutan, dan potensi keanekaragaman hayatinya. Melalui sebuah bentuk pengelolaan kawasan hutan, khususnya kawasan konservasi, Burung Indonesia berharap dapat menjadikan program-programnya sebagai model bagi upaya pelestarian ekosistem hutan tersebut. Lebih jauh lagi, sesuai dengan visi yang diembannya, program Burung Indonesia bertujuan menyelamatkan berbagai spesies burung dari ancaman kepunahan dan membantu pelestarian habitat-habitatnya. Diketahui, 98 % burungburung sebaran terbatas di Indonesia sangat tergantung pada keberadaan hutan, bahkan 67 % diantaranya hanya ditemui di habitat hutan, sehingga pelestarian kawasan hutan secara tidak langsung akan menjadi salah satu faktor pendorong pelestarian burung-burung tersebut.

Area kerja Burung Indonesia meliputi:

© 2004-2010, Burung Indonesia, hak cipta nama, logo, dan karya dilindungi Undang-undang
Last updated: 05 September 2010 - Rancangan laman oleh Burung Indonesia - Kontak laman: webmaster (at) burung.org
Burung Indonesia adalah mitra BirdLife International di Indonesia