Skip to content Skip to footer

Pusat Pengembangan Ekonomi Berbasis Konservasi Kini Hadir di Provinsi Gorontalo

Pohuwato (8/11) – Burung Indonesia meresmikan berdirinya Pusat Pengembangan Ekonomi dan Pelestarian Terpadu Bentang Alam Popayato-Paguat (B’Maleo Conservation & Development Learning Centre), sekaligus memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional. Acara ini digelar bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Seksi Konservasi Wilayah II Gorontalo.

Gubernur Gorontalo Drs. H. Rusli Habibie, M.Ap dan Bupati Pohuwato H. Syarif Mbuinga, S.PdI, SE, MM secara resmi menandatangani prasasti peresmian B’Maleo yang disaksikan oleh Ketua Dewan Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia Prof. Dr. Ir. Ani Mardistuti, M.Sc, Direktur Eksekutif Burung Indonesia Dian Agista, perwakilan para pemangku kebijakan, instansi terkait, anggota Provincial Steering Committee, lembaga swadaya masyarakat, akademisi, organisasi penggiat lingkungan, masyarakat di enam desa dampingan Burung Indonesia Program Gorontalo, dan masyarakat di sekitar pondok kerja.

Sebagai Pusat Pengembangan Ekonomi dan Pelestarian Terpadu Bentang Alam Popayato-Paguat, B’Maleo berdiri untuk mendorong ekonomi produktif masyarakat desa di sekitar lokasi program, mendukung aktivitas belajar masyarakat melalui Agriculture Learning Centre, menjadi pusat produk hasil olahan masyarakat, dan tentu saja mendorong upaya pelestarian burung dan habitatnya. Direktur Eksekutif Burung Indonesia, Dian Agista mengatakan.

”Kami menyebutnya B’Maleo atau Belle Maleo. Maleo (dalam bahasa Gorontalo disebut Panua) adalah burung endemis sulawesi yang terancam punah dan berstatus dilindungi. Penggunaan nama B’Maleo diharapkan dapat menjadi pengingat dan mampu menggugah kesadaran seluruh pihak untuk turut melestarikan burung beserta habitatnya melalui pengelolaan bentang alam yang lestari dan berkelanjutan.”

Melalui B’Maleo, Burung Indonesia Program Gorontalo menginisiai dan mengembangkan program percontohan peningkatan ekonomi masyarakat berbasis lingkungan seperti rumah produksi pakan ternak, minyak kelapa, pupuk nitrogen, pemanfaatan energi terbarukan melalui instalasi panel surya, pengolahan sampah (plastik), bengkel alat-alat pertanian dan kegiatan terpadu lainnya. Di samping itu, masyarakat di sekitar Kecamatan Marisa memanfaatkan B’Maleo sebagai lokasi belajar pengolahan hasil pertanian menjadi produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi seperti kakao, keripik, gula semut, madu, serbuk jahe merah, dan lainnya.

Burung Indonesia telah memulai program konservasi di Gorontalo sejak tahun 2009 dengan dukungan dari pemerintah daerah, masyarakat, dan para pihak lainnya. Program Pengelolaan Bentang Alam Berkelanjutan dan Lestari menjadi program inti Burung Indonesia di ‘Bumi Maleo’ sebagai wujud komitmen terhadap program pembangunan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi Gorontalo. “Saya berharap kehadiran Pusat Pengembangan Ekonomi dan Pelestarian Terpadu di Bentang Alam Popayato Paguat, B’Maleo Conservation & Learning Centre maupuninfrastruktur yang ada di desa – desa tersebut, difungsikan dan dirawat sebaik mungkin agar dapat dimanfaatkan secara turun temurun oleh generasi selanjutnya,” ujar Gubernur Gorontalo Drs. H. Rusli Habibie.

id_IDIndonesian