Skip to content Skip to footer

Ciptakan RTH dan Pekarangan Ramah Burung

Indonesia tercatat sebagai negara kedua dengan laju urbanisasi terbesar di Asia Tenggara, yaitu sebesar 51,4%. Pertumbuhan penduduk di perkotaan pun lebih tinggi dibanding di pedesaan.

Akibatnya, banyak ruang terbuka hijau (RTH) di perkotaan yang akhirnya tergusur oleh permukiman, perkantoran, hingga kawasan industri.

Di Jakarta, misalnya, luas RTH hanya sekitar 10—11% luas wilayah ibukota. Padahal menurut undang-undang penataan ruang (UU No. 6 tahun 2007), luas RTH di perkotaan minimal 30%. Karena itu, sejumlah kota di Indonesia termasuk Jakarta saat ini tengah giat menambah luasan RTH di wilayahnya.

“Namun, yang perlu diperhatikan, RTH seharusnya tidak hanya sekadar hijau, tetapi juga mempertimbangkan fungsi ekologisnya,” tutur Agus Budi Utomo, Direktur Eksekutif Burung Indonesia dalam pameran lukisan burung “Birds of Our Nation” di Jakarta, 16 Agustus 2015.

Artinya, RTH idealnya bukan hanya hijau dan nyaman bagi manusia tetapi juga ‘ramah’ bagi beragam hidupan liar misalnya burung-burung.

“Kehadiran burung di perkotaan penting karena burung merupakan indikator alami kualitas lingkungan,” tutur Dr Biol Boedi Mranata, Dewan Pembina Burung Indonesia dalam obrolan santai pelestarian burung di perkotaan selama pameran.

Sebagai contoh, jika di suatu area masih dijumpai burung sikatan artinya di situ masih banyak pepohonan yang rimbun. Sebab, burung ini menyukai naungan pohon yang sejuk. Contoh lain, kehadiran burung raja-udang menandakan perairan di sekitarnya masih memungkinkan ikan untuk hidup.

Selain itu, burung juga cantik dan suara kicauannya memberikan nuansa alami yang menenangkan. Kehadiran burung liar di ruang publik dapat meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap alam.

Alih-alih memelihara burung dalam sangkar, pemerintah dan masyarakat dapat lebih mengoptimalkan RTH yang ada untuk menghadirkan burung di lingkungan mereka. Tak hanya taman kota, pekarangan rumah pun berperan besar sebagai koridor hijau untuk melestarikan burung-burung di perkotaan.

Hal inilah yang tengah aktif dipromosikan Burung Indonesia sebagai organisasi pelestari burung liar dan habitatnya melalui program Birds Around Us (BArU). Terkait program ini, Burung Indonesia telah melakukan penyadartahuan kepada berbagai kelompok masyarakat mulai dari perkumpulan ibu-ibu PKK, pelajar, masyarakat perumahan, hingga pemerintah kota di Jabodetabek. Termasuk di antaranya melalui pameran yang menampilkan lukisan burung-burung Nusantara karya pelukis satwa liar dari Portugal, Paulo Alves tersebut.

Dalam pameran tersebut, pengunjung dapat mengenal 42 jenis burung endemis dan 31 jenis burung terancam punah di Indonesia, maupun jenis burung yang masih dapat dijumpai di perkotaan seperti betet biasa.

Menurut Agus, kita dapat menyiapkan pekarangan kita supaya dapat memikat kehadiran burung, baik untuk beristirahat, mencari makan, maupun bersarang. Caranya dengan menanam pohon buah dan bunga-bungaan.

Selain sebagai sumber pakan, kerimbunan pohon buah-buahan menciptakan tempat yang nyaman bagi burung untuk bertengger dan bersarang. Betet biasa, misalnya, menyukai pohon-pohon besar yang memiliki tajuk luas. Demikian juga dengan tanaman bunga seperti pisang-pisangan dan bunga pacing. Nektar dan serangga yang terpikat tanaman ini merupakan santapan utama beberapa jenis burung seperti burung madu.*

Foto-foto pameran Birds of Our Nation dapat dilihat di tautan ini.

id_IDIndonesian