Skip to content Skip to footer

Memanfaatkan Air untuk Mengubah Cara Menghargai Hutan

Di Mbeliling, sebuah skema inovatif melalui penjualan air minum untuk konservasi dan perlindungan hutan menjadi contoh pendanaan berkelanjutan yang menjanjikan.


Biasanya, jika kita membeli air minum, kita membayar perusahaan air untuk layanan mereka: penyaringan, sanitasi, pemeliharaan pasokan, biaya staf, dan lainnya. Tetapi bagaimana jika perusahaan itu adalah alam itu sendiri? Dapatkah sebuah bentang alam berhutan dikenal sebagai penyedia jasa air, di mana tanahnya menyaring air hujan dan mengalirkan air tawar yang bersih dan stabil? Apakah masyarakat lokal yang tinggal di sana bisa mendapat imbalan karena melindungi hutan ini? Di Bentang Alam Mbeliling di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, jawabannya adalah ya.

Alam memberikan banyak manfaat untuk kelangsungan hidup dan kesejahteraan kita, tetapi sering kali tidak dihargai. Namun, upaya Burung Indonesiadi Mbeliling membuktikan bahwa skema inovatif seperti Pembayaran Jasa Lingkungan (PJL) adalah cara yang bagus untuk memastikan penghargaan terhadap manfaat langsung dari alam sekaligus membantu menjaga kelestarian hutan. Cara ini juga mengatasi salah satu tantangan terbesar konservasi, yaitu bagaimana melepaskan diri dari model pendanaan yang tidak berkelanjutan dan memanfaatkan sektor swasta berskala besar. Jika dilakukan dengan benar, potensi arus dukungannya sangat besar seperti air bersih yang mengalir dari mata air.

Upaya Burung Indonesia bekerja sama dengan masyarakat lokal di Flores pada rentang waktu 2007-2020 telah menstabilkan 30.000 hektare hutan, menambah 10.000 hektare tutupan hutan, dan juga menstabilkan populasi satwa liar dengan nihil perburuan dan perdagangan ilegal.

Menjual Air untuk Membiayai Konservasi

Dengan modal dasar dari BirdLife Accelerator, Burung Indonesia mengidentifikasi skema PJL sebagai pengaturan pembagian biaya yang adil yang akan memecahkan berbagai masalah ini. Tiburtius Hani, Programme Manager Burung Indonesia di Flores menjelaskan, “Pembayaran untuk Jasa Lingkungan adalah cara untuk bekerja secara kolektif antara masyarakat di hulu dengan para konsumen air untuk melestarikan mata air dan daerah tangkapan air di dalam bentang alam secara adil dan berkelanjutan.”

Pada 2020, Burung Indonesia mendirikan sebuah usaha sosial yang menjual air minum untuk mendanai kegiatan konservasi. Tujuan pendirian usaha ini adalah untuk menguji apakah sektor swasta dan konsumen bersedia membiayai konservasi di hulu. Setelah uji coba berhasil, 28 usaha pengolahan air menjadi anggota Asosiasi Pengusaha Peduli Air Labuan Bajo. Dengan dukungan BirdLife Accelerator, Burung Indonesia akan secara resmi mendaftarkan asosiasi ini, memulai pengumpulan PJL dari anggota-anggotanya, dan mengelola dana untuk konservasi secara transparan.

Usaha pengolahan air yang diprakarsai Burung adalah bagian dari inisiatif PJL (Foto: Dokumentasi Burung Indonesia)

Pengaruhnya terhadap Bentang Alam

Burung Indonesia telah bekerja di Bentang Alam Mbeliling sejak 2007 dan hubungan erat dengan masyarakat lokal telah terjalin erat melalui KPAD, mempromosikan mata pencaharian alternatif dan usaha dan lain-lain. Adi Widyanto, Head of Conservation and Development Burung Indonesia menjelaskan dampak dari upaya-upaya ini terhadap bentang alam. “Sejauh ini, Program Flores kami berhasil menstabilkan tata guna lahan dan tutupan hutan di seluruh bentang alam. Secara khusus, pada 2021 sekitar 10.000 hektare kawasan hutan telah mengalami suksesi alami yang signifikan dari keadaan terdegradasi menjadi hutan sekunder dewasa. Dampak seperti itu hanya dapat dicapai jika hutan dijaga dari gangguan dalam waktu yang cukup lama, sehingga memungkinkan hutan pulih dengan sendirinya.”

Langkah berikutnya adalah meningkatkan uji coba pembayaran air, dan sekarang dengan dukungan lebih jauh dari BirdLife Accelerator dan pelatihan komunikasi dari Terranomics, Burung melakukan pendekatan kepada perusahaan-perusahaan swasta yang lebih besar. Permata Qua, salah satu perusahaan pengolahan air di Labuan Bajo ikut serta dalam skema tersebut. “Ini inisiatif penting yang perlu didukung semua pihak,” kata Rius Surianto, direktur perusahaan tersebut. “Melindungi daerah resapan air berarti menjaga kelangsungan usaha dan memenuhi kebutuhan masyarakat dengan lebih baik.”

Lebih banyak dukungan dibutuhkan untuk memperluas skema tersebut ke lahan pertanian prioritas di bentang alam untuk upaya restorasi hutan, dengan membuat demplot. “Proyek inovatif ini telah mencapai inti dari BirdLife Accelerator,” kata Aron Marshall, Forest Programme Officer BirdLife International. “Burung Indonesia telah mempraktikkan apa yang dapat dicapai jika investasi dirancang menjadi ide-ide kecil dan inovatif yang dapat dilakukan di tingkat bawah, untuk kemudian dikembangkan. Hal ini menciptakan jenis transformasi yang akan memungkinkan konservasi dilakukan swadana berkelanjutan di masa depan.”

Asosiasi Pengusaha Peduli Air Labuan Bajo (Foto: Dokumentasi Burung Indonesia)

Disadur dari artikel BirdLife International “How this project in Indonesia is using water to change the way forests are valued”

id_IDIndonesian