Skip to content Skip to footer

Pembaruan Daftar Merah bagi Burung: Dua Jenis Burung Selamat dari Kepunahan Melalui Aksi Konservasi

Siaran Pers Internasional – BirdLife International

Target aksi konservasi BirdLife International terus membuahkan hasil positif, dengan dua jenis burung paling langka dan paling terancam punah di dunia, yakni Northern Bald Ibis dan Pink Pigeon, menjadi jenis burung terakhir yang berhasil pulih dari jurang kepunahan berkat intervensi langsung. Temuan ini adalah bagian dari hasil kajian BirdLife International terhadap risiko kepunahan burung-burung di dunia yang diperbarui setiap tahun berdasarkan peran BirdLife sebagai Red List Authority bagi jenis burung untuk Daftar Merah Spesies Terancam Punah Badan Konservasi Dunia (The IUCN Red List of Threatened Species)

Sebelum kajian pada tahun ini, Northern Bald Ibis berada di antara 222 jenis burung di dunia yang tergolong sebagai jenis berstatus Kritis (Critically Endangered)—kategori ancaman tertinggi yang memungkinkan jenis tersebut punah dalam rentang waktu hidup kita. Namun, jenis ini kini telah pulih sedemikian rupa sehingga saat ini telah didaftarkan ke dalam kategori ancaman yang lebih rendah, meningkatkan daftar jenis burung Kritis yang statusnya menurun menjadi 26 jenis sebagai hasil dari aksi konservasi langsung sejak 2000.

Pink Pigeon bahkan telah melalui perjalanan lebih jauh menuju status terselamatkan—jenis ini telah didaftarkan dari status Kritis ke Genting (Endangered) pada 2000, kini status ancamannya telah menurun menjadi Rentan (Vulnerable).

Dengan latar belakang krisis keanekaragaman hayati yang sedang berlangsung, hasil ini menunjukkan bahwa jenis satwa yang sangat terancam tidak selalu ditakdirkan untuk punah, tetapi dapat diselamatkan dengan aksi konservasi yang efektif. Namun, pembaruan status keterancaman juga memperingatkan kita bahwa tantangan konservasi masih terus berlanjut karena perdagangan satwa ilegal, hilangnya habitat dalam skala besar, dan perubahan iklim di garis terdepan masalah ini.

Sebagai akibat dari tekanan ini, kepunahan jenis-jenis burung di daratan sekarang berada di jalur untuk melampaui kepunahan yang terjadi terhadap jenis-jenis burung di kepulauan untuk pertama kalinya, yang berarti menyasar intervensi khusus saja tidaklah cukup. Untuk memerangi secara efektif ancaman ini, diperlukan kolaborasi internasional skala besar antara LSM, pemerintah, sektor swasta, dan komunitas lokal, bersama dengan regulasi yang kuat untuk melindungi kawasan-kawasan di dunia yang penting bagi alam.

Ancaman dan tantangan yang muncul

Tujuh jenis burung rangkong di bawah ancaman berat deforestasi dan perburuan (Asia Tenggara)

Di Asia Tenggara, terdapat tujuh jenis burung rangkong mengalami peningkatan kategori keterancaman, terutama karena deforestasi. Sebagian jenis ini terkonsentrasi di dataran rendah Sunda di Asia Tenggara, di mana terjadi tingkat deforestasi paling tinggi. Burung rangkong bersarang di pohon yang besar dan tua yang sering kali menjadi pohon pertama yang ditebang. Hilangnya hutan juga memudahkan para pemburu untuk mengakses keberadaan burung-burung ini. Jenis rangkong yang berukuran lebih besar seperti rangkong papan (Buceros bicornis) dan rangkong badak (Buceros rhinoceros) sering diburu karena dikira sebagai rangkong gading (Rhinoplax vigil)—berstatus Kritis sejak 2015—yang memiliki “casque” atau balung yang unik dan sangat diinginkan di pasar gelap karena dipercaya memiliki khasiat bagi fertilitas tubuh atau digunakan sebagai simbol status sosial. Untuk memerangi ancaman ini, BirdLife International telah bekerjasama dengan organisasi konservasi di seluruh dunia untuk mengimplementasikan rencana aksi penyelamatan rangkong gading selama sepuluh tahun yang berpusat pada kegiatan pertukaran informasi dan menganalisis data untuk membendung perdagangan ilegal ornamen rangkong gading pada sumbernya.

Cucak rawa dan gelatik jawa sedang terperangkap dalam kepunahan karena perdagangan burung pengicau (Asia Tenggara)

Cucak rawa (Pycnonotus zeylanicus) yang tersebar di Asia Tenggara telah mengalami peningkatan kategori keterancaman dari Genting menjadi Kritis sebagai salah satu dari banyak jenis yang terdampak oleh perdagangan burung pengicau di Asia karena meningkatnya popularitas kompetisi kicau burung yang menawarkan hadiah uang dalam jumlah besar bagi burung pengicau terbaik. Cucak rawa dianggap sebagai salah satu burung pengicau terbaik, dan dalam beberapa tahun terakhir, penangkapan jenis ini semakin mudah dilakukan karena hilangnya hutan belantara yang menjadi habitat jenis ini—karena akses jalan bagi aktivitas penebangan terbentang melalui hutan, jarak untuk menggapai titik akses semakin kecil dan mempermudah bagi para penangkap untuk mencapai lokasi jenis ini dan pergi dengan aman. Demikian pula dengan gelatik jawa (Lonchura oryzivora) yang dapat dibeli hampir di semua lokasi penjualan satwa di Asia Tenggara dan telah diintroduksi di tempat yang jauh dan berbeda seperti Hawaii dan Puerto Riko. Namun, karena aksi penangkapan telah terjadi selama puluhan tahun (mencapai puncaknya pada 1960-an dan 1970-an), populasi gelatik jawa liar yang hanya ditemukan di Pulau Jawa dan Bali kini semakin kecil dan mengakibatkan peningkatan kategori keterancaman dari Rentan menjadi Genting. BirdLife, khususnya melalui Burung Indonesia sedang menangani krisis ini dengan mengidentifikasi lokasi “perlindungan” terakhir bagi sejumlah jenis burung pengicau yang berada di hutan hujan tropis pegunungan di Jawa bagian barat dan bekerja dengan pemangku kebijakan di Indonesia dan masyarakat setempat untuk meningkatkan dan memperluas perlindungan mereka.

Eastern Whip-poor-will dan Rufous Hummingbird: burung-burung mahsyur yang meluncur menuju kepunahan di depan mata (Amerika Utara)

Di Amerika Utara, dua jenis burung yang populer dan tersebar luas—Eastern Whip-poor-will (Antrostomus vociferus) dan Rufous Hummingbird (Selasphorus rufus)—telah didaftarkan ke dalam kategori Mendekati Terancam Punah. Hanya ada sedikit penelitian sebelumnya mengenai kesehatan populasi kedua jenis ini karena citra mereka sebagai burung “biasa”. Eastern Whip-poor-will adalah burung cabak yang menjadi bagian intrinsik dari budaya lokal dan terdapat di banyak cerita rakyat Amerika. Tetapi pemantauan jangka panjang yang dilakukan oleh para pengamat burung telah mengungkapkan bahwa populasinya menurun lebih dari 60% antara tahun 1970 dan 2014. Jenis ini bergantung pada serangga terbang sepanjang tahun, sangat sensitif terhadap pestisida, pertanian intensif, dan faktor lain yang mengurangi ketersediaan serangga, dan menjadi korban akibat hilangnya habitat. Inisiatif seperti Conservation Reserves Program merupakan titik awal yang penting untuk membalikkan tren kepunahan ini.

The Rufous Hummingbird, meskipun terkenal sebagai burung pemakan nektar, juga bergantung pada serangga selama musim kawin berlangsung, dan dengan demikian, dapat dipengaruhi oleh kurangnya serangga di habitat hutannya. Selain itu, jenis ini akan segera menjadi korban perubahan iklim: bunga-bunga bermekaran dua minggu lebih awal di beberapa lokasi, yang berarti banyak burung kolibri yang terlambat datang saat musim migrasi untuk mengambil keuntungan dari sumber makanan penting ini.

Keberhasilan konservasi

Populasi Northern Bald Ibis berhasil mencapai catatan baru dan memiliki area berbiak baru (Maroko)

Northern Bald Ibis (Geronticus eremita) pernah tersebar luas dan menjadi jenis burung yang diidolakan di Afrika Utara, Timur Tengah, dan Eropa Selatan, dan bahkan digunakan sebagai hieroglif di masa Mesir kuno. Namun, pada 1998, hilangnya habitat, penggunaan pestisida, dan perburuan telah mendorong populasinya ke jumlah terendah sepanjang masa hingga menyisakan hanya 59 pasang, kebanyakan dari mereka terbatas pada satu koloni pembiakan di Taman Nasional Souss-Massa, Maroko, menjadikannya jenis burung yang sangat terancam punah. BirdLife International, bekerja dengan pemerintah dan organisasi Maroko termasuk Groupe de Recherche pour la Protection des Oiseaux au Maroc (GREPOM, mitra BirdLife di Maroko), memperkerjakan nelayan setempat sebagai penjaga untuk melindungi koloni Northern Bald Ibis saat berbiak dari gangguan manusia dan pemangsa. Berkat hal ini dan langkah-langkah pelestarian lebih lanjut, jumlah jenis ini telah meningkat menjadi rekor catatan baru dari 147 pasangan yang berbiak, pada 2017 menyebar ke dua area pembiakan kecil yang baru. Setelah kemungkinan terjadi kepunahan populasi kecil di Suriah, populasi Northern Bald Ibis di Maroko menjadi satu-satunya populasi jenis ini yang benar-benar liar. Karena jumlah individunya yang masih terbilang sangat rendah, jenis ini masih dikategorikan sebagai burung berstatus Kritis, dan masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk mengamankan masa depan populasi ini untuk jangka panjang. Tetapi populasi semi-liar Northern Bald Ibis di Turki dan proyek-proyek pelepasliaran di Eropa selatan meningkatkan harapan agar pemulihan lebih lanjut di kisaran sebelumnya.

Pink Pigeon tidak lagi terancam punah berkat kontrol spesies invasif di pulau yang sempat menjadi rumah bagi burung Dodo (Mauritius, Samudera Hindia)

Status Pink Pigeon (Nesoenas mayeri) telah turun dari Genting menjadi Rentan setelah beberapa dekade berhasil mengontrol spesies invasif dan merestorasi habitatnya di Mauritius, pulau di mana burung Dodo (Raphus cucullatus) bertemu dengan kematiannya. Pada 1990, populasi Pink Pigeon telah berkurang menjadi hanya 10 individu liar karena hilangnya habitat dan introduksi predator, yaitu tikus hitam (Rattus rattus), monyet ekor-panjang (Macaca fascicularis), dan garangan-kecil india (Herpestes auropunctatus). Sebagai tanggapan, para konservasionis menggabungkan program penangkaran dengan konservasi intensif di lapangan. Pada 2000, yang dilakukan oleh Mauritian Wildlife Foundation (mitra BirdLife di Mauritius) dan rekanan mereka telah membantu meningkatkan populasi Pink Pigeon menjadi 300 individu, dan kemudian dikeluarkan dari status Kritis menjadi Genting. Tahun ini, populasi liar jenis ini mencapai 400 individu dan dianggap cukup stabil untuk mendorong statusnya menjadi Rentan.

Red-headed Woodpecker dan Henslow’s Sparrow pulih berkat restorasi habitat (Amerika Utara)

Populasi Red-headed Woodpecker (Melanerpes erythrocephalus) dan Henslow’s Sparrow (Passerculus henslowii)—jenis burung asli Amerika Utara—yang sempat menurun kini telah stabil berkat pengelolaan habitat. Populasi Henslow’s Sparrow secara khusus mendapatkan manfaat dari Conservation Reserves Program Amerika Serikat, di mana para petani dibayar untuk menyingkirkan tanaman di lahan yang sensitif terhadap lingkungan dan menaman tanaman yang dapat meningkatkan kesehatan dan kualitas lingkungan. Tahun ini, status kedua jenis burung tersebut didaftarkan dari Mendekati Terancam Punah (Near Threatened) menjadi Risiko Rendah (Least Concern), status yang idealnya kita harapkan agar semua kehidupan di Bumi dapat masuk ke dalam kategori tersebut.

KUTIPAN

Dr Roger Safford, Senior Programme Manager (Preventing Extinctions), BirdLife International:

Keberhasilan yang ditunjukkan oleh peningkatan status dari Northern Bald Ibis dan Pink Pigeon adalah pengingat bahwa konservasi jenis yang terencana dengan baik dapat memberikan hasil yang menginspirasi. Kedua spesies ini telah menjadi ikon untuk tempat spektakuler dan unik yang mereka huni, dengan manfaat bagi banyak hewan dan tumbuhan lainnya. Tetapi bahkan mereka berdua tetap terancam, jadi kita tidak bisa berpuas diri dan upaya kita harus terus berlanjut – bagi populasi jenis burung lain yang terus menurun.

Dr Stuart Butchart, Chief Scientist, BirdLife International:

Dalam waktu dua tahun, pemerintah akan bertemu untuk meninjau apakah target yang mereka adopsi pada tahun 2010 untuk mengatasi hilangnya alam telah terpenuhi, termasuk tujuan untuk mencegah kepunahan lebih lanjut dan meningkatkan status jenis terancam yang paling menurun. Tindakan yang ditargetkan dapat membantu jenis-jenis burung untuk pulih, tetapi tren keseluruhannya negatif, menunjukkan bahwa upaya yang jauh lebih besar diperlukan untuk mereplikasi keberhasilan tersebut secara lebih luas.

Melanie Heath, Director of Science, Policy and Information, BirdLife International:

Daftar tahun ini menunjukkan bahwa dengan sumber daya dan kemauan politik yang mencukupi, jenis-jenis burung dapat pulih dan habitat mereka dapat dipulihkan. Namun, diperlukan upaya yang lebih terpadu untuk membalikkan tren penurunan populasi bagi jenis-jenis burung paling terancam di planet kita. Pemerintah memiliki tanggung jawab khusus untuk menerapkan kebijakan yang dapat meningkatkan keberhasilan yang ada dan mencapai pembangunan lingkungan yang berkelanjutan untuk mengakhiri krisis yang dihadapi keanekaragaman hayati–fokus pada bulan ini adalah berkumpul dengan pemerintah negara-negara di dunia, LSM, dan komunitas bisnis pada Konferensi Keanekaragaman Hayati PBB 2018.

Unduh dokumen siaran pers di sini

NOTES TO EDITORS

Contact: Jessica Law, Communications Officer, BirdLife International jessica.law@birdlife.org (+44 1223 747527)

Download images here

***

BirdLife International is the world’s largest nature conservation Partnership. Together we are 117 BirdLife Partners worldwide – one per country – and growing, with almost 11 million supporters, 7,000 local conservation groups and 7,400 staff. As the official authority for birds for the IUCN Red List, BirdLife coordinates the process of evaluating all of the world’s bird species against the Red List categories and criteria, in order to assess their extinction risk. Find out more at: www.birdlife.org and visit www.birdlife.org/datazone for the bird-specific Red List.

The IUCN Red List of Threatened Species™ (or The IUCN Red List) is an invaluable resource to guide conservation action and policy decisions. It is a health check for our planet – a Barometer of Life. It is the world’s most comprehensive information source on the global conservation status of plant, animal and fungi species. It is based on an objective system for assessing the risk of extinction of a species should no conservation action be taken.

Species are assigned to one of eight categories of threat based on whether they meet criteria linked to population trend, population size and structure and geographic range. Species listed as Critically Endangered, Endangered or Vulnerable are collectively described as ‘Threatened’.

The IUCN Red List is not just a register of names and associated threat categories. It is a rich compendium of information on the threats to the species, their ecological requirements, where they live, and information on conservation actions that can be used to reduce or prevent extinctions. The IUCN Red List is a joint effort between IUCN and its Species Survival Commission, working with its IUCN Red List Partners – Arizona State University; BirdLife International; Botanic Gardens Conservation International; Conservation International; NatureServe; Royal Botanic Gardens, Kew; Sapienza University of Rome; Texas A&M University; and Zoological Society of London. www.iucnredlist.org

id_IDIndonesian