Pengelolaan Taman Nasional secara Kolaboratif di Halmahera
Halmahera merupakan pulau terbesar di Daerah Burung Endemik Maluku Utara. Pulau ini menjadi habitat 25 dari 27 jenis burung endemis Maluku Utara.
Keberadaan Kawasan konservasi Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) di Pulau Halmahera sangat penting sebagai benteng terakhir keragaman hayati di pulau ini, sekaligus di kawasan Maluku Utara. Taman nasional yang mulai ditetapkan sejak 2004 ini menjadi habitat utama bagi empat jenis burung endemis maupun satu reptil, dua amphibia, dan beberapa jenis mamalia endemis Halmahera.
Kawasan taman nasional juga sangat penting sebagi penyokong kehidupan manusia. Kawasan konservasi ini dikelilingi 64 desa yang mendapatkan sokongan air dari kawasan taman nasional. Selain itu ada 21 kelompok masyaraat adat Tobelo Dalam yang hidup di sekitar dan di dalam kawasan TNAL serta menggantungkan kebutuhan hidupnya dari sumber daya hutan. Halmahera yang kaya dengan hasil hutan dan tambang membuat banyak perusahaan kayu maupun tambang yang beroperasi di sekitar kawasan taman nasional.
Di Halmahera, Burung Indonesia bekerjasama dengan TNAL menerapkan model pengelolaan kawasan taman nasional secara kolaboratif untuk menciptakan sistem pengelolaan yang melibatkan masyarakat, pemerintah daerah, dan pihak swasta di sekitarnya.
Burung Indonesia mem fasilitasi kesepakatan antara Balai TNAL dengan masyarakat desa di sekitarnya didukung Pemerintah Daerah. Hasilnya, Kesepakatan Pelestarian alam Desa (KPAD) di Desa Woejerana, Woda, Akelamo, Tutuling Jaya dan Labi Labi pun terbentuk.
Selain itu Burung Indonesia juga memfasilitasi pembentukan forum multipihak di dua kabupaten dan satu kotamadya yang disahkan dengan Surat Keputusan Bupati/Walikota. Forum Multi Pihak (FMP) Kabupaten Halmahera Timur dengan SK Bupati No.188.45/107-860/2009, Forum Multi Pihak Kabupaten Halmahera Tengah dengan SK Bupati No.556.105/KEP/200/2010, serta Forum Multi Pihak Kabupaten Kota Tidore Kepulauan dengan SK Walikota No.72 Tahun 2009 di Kota Tidore Kepulauan.
Forum ini terbukti mampu menjadi media untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang berkaitan dengan taman nasional. Dalam permasalahan tapal batas, FMP dapat memediasi pertemuan masyarakat, tetua adat, Kesultanan Tidore, pemerintah daerah dan Balai TNAL untuk menciptakan resolusi yang disepakati bersama.
Forum ini juga menjadi media untuk menyuarakan keluhan masyarakat Tobelo Dalam. Kesehatan masyarakat Tobelo Dalam di Walaino, Kecamatan Maba utara mulai mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Halmahera Timur. Masyarakat pun mendapatkan layanan kesehatan gratis dan Puskesmas Pembantu yang ada kembali diaktifkan.