Skip to content Skip to footer

Birds Around Us: Mengamati Burung-burung di Hutan Tanah Tingal

Sinar matahari masuk dari celah dedaunan pohon “Bodhi”. Seorang musisi berdiri sambil menggenggam ukulele. Anak-anak duduk bersila di hadapannya, menanti lagu apa yang berikutnya akan mereka nyanyikan. Beberapa anak tampak berjalan ke titian, menantang dirinya menyelesaikan tantangan di area permainan.

Tanah Tingal Family and Culture Festival 2017 yang berlangsung pada 18-19 November 2017 merupakan gelaran yang sangat berwarna. Tanah Tingal—hutan kota yang terletak tak jauh dari kawasan modern Tangerang Selatan—menjadi lokasi menyenangkan bagi setiap keluarga yang ingin menghabiskan akhir pekan. Beragam fasilitas tersedia seperti fasilitas outbond, taman bermain anak, kolam renang, dan tentu saja hutan yang terasa masih alami dengan sungai yang jernih di dalamnya.

Para pengunjung, khususnya anak-anak, dapat bermain sambil belajar menghias wayang, melukis, dan kegiatan menyenangkan lainnya seperti pengamatan burung. Ya, masih banyak burung-burung di sekitar Tanah Tingal, dan mereka menjadi objek yang sangat menarik untuk diamati. Sebab, tak semua orang menyadari bahwa daerah perkotaan bukan hanya rumah bagi burung gereja, tetapi juga bagi burung-burung menarik lainnya.

Burung Indonesia mengajak para pengunjung Tanah Tingal untuk bersama-sama bertualang mencari dan mengamati indahnya berbagai jenis burung. Menikmati kehadiran burung di tengah segarnya udara di tengah hutan kota merupakan langkah awal untuk menghargai kualitas lingkungan alami di wilayah perkotaan.

Sekitar 10 anak mengikuti setiap sesi pengamatan burung. Sebelumnya, mereka telah dibekali pengetahuan menggunakan teropong dan jenis burung apa saja yang berpotensi mereka amati di kawasan Tanah Tingal. Pada sesi pertama, cabai jawa merupakan burung yang paling sering teramati. Peserta terus berjalan menyusuri setapak. Mata mereka awas, dan telinga selalu waspada mendengar dari mana arah kicau berasal.

Kemudian berturut-turut datang di ranting-ranting pohon jenis lainnya seperti cucak kutilang, burung-madu sriganti, dan perenjak jawa. Dan seperti biasa, walet linci berlintasan di langit seperti hendak menembus awan. Di sebuah danau kecil, mereka berhenti.

“Biasanya di daerah sungai atau danau kita bisa menemukan burung-burung raja-udang bertengger di pinggiran. Ukuran paruhnya panjang dan tajam. Mereka biasanya memangsa ikan-ikan kecil di danau atau sungai, dan melahan ud…” ujar Biodiversity Conservation Specialist Burung Indonesia, Ferry Hasudungan. “Daaaaangg!” sahut para peserta pengamatan yang sejurus kemudian mengarahkan teropong ke pinggiran danau. Sayang, sang rajaudang enggan menunjukkan dirinya.

Kota ramah burung

Tangerang Selatan yang kini menjadi kota penyangga Daerah Khusus Ibukota Jakarta dahulu memiliki kawasan hijau yang sangat luas. Laju urbanisasi yang sangat pesat membuat sebagian besar kawasan di Tangerang Selatan menjadi lokasi hunian warga dan kawasan industri.

Pesatnya laju urbanisasi juga membuat komposisi penduduk di Indonesia berubah. Kini, sekitar setengah populasi dunia tinggal di kota. Diperkirakan, pada 2030 sekitar 60% populasi manusia akan tinggal di wilayah perkotaan. Di Indonesia, setidaknya setengah populasi di Indonesia akan tinggal di kota.

Lalu, di mana burung-burung akan tinggal? Ada kebutuhan untuk mengembangkan ekosistem kota yang lebih baik. Menghadirkan alam kembali di dalam kota memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar menghiasinya. Salah satu cara untuk membuat kota yang ramah terhadap populasi burung adalah dengan memperbanyak Ruang Terbuka Hijau (RTH).

Kawasan RTH tidak hanya dapat mempercantik wajah kota, tetapi juga mampu menyaring polusi kendaraan, meredam bisingnya suara mesin kota, dan menyerap kelebihan air di kala hujan. Kehadiran RTH mampu menaungi burung-burung dan juga hidupan liar lainnya seperti kupu-kupu. Selain menjadi RTH, kawasan hijau alami seperti Tanah Tingal dan pekarangan rumah pun berpotensi menjadi ‘batu loncatan’ bagi burung untuk berpindah dari satu blok kawasan ke blok lainnya. Tentu saja, hal tersebut mampu meningkatkan konektivitas antar kawasan hijau.

Warga kota dapat menyiapkan pekarangan mereka agar menarik kehadiran jenis-jenis burung yang masih umum dijumpai di sekitar permukiman, sebut saja kutilang, burung madu, dan burung cabai. Caranya adalah dengan menanam pohon buah dan bunga. Selain sebagai sumber pakai, kerimbunan pohon buah mampu menciptakan tempat yang nyaman bagi burung untuk bertengger dan bersarang. Sedangkan pada tanaman bunga, burung-burung dan serang dapat memanfaatkan nektar dalam tanaman sebagai santapan utama.

***

Sejak 2011, Burung Indonesia mendorong inisiatif baru untuk pelestarian burung di wilayah perkotaan, melalui program Birds Around Us (BArU). BArU merupakan sebuah program pengembangan ruang terbuka hijau yang tidak hanya sekadar hijau, tetapi juga mempertimbangkan kaidah ekologis.  Program BArU bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat urban akan pentingnya menjaga kelestarian ekosistem yang ada di sekitar mereka, salah satu caranya melalui aktivitas penyadartahuan kepada berbagai kelompok masyarakat, termasuk menggelar kegiatan pengamatan burung bersama.

id_IDIndonesian