Skip to content Skip to footer

Burung, Pembawa Pesan Perubahan Iklim

Elang-laut perut putih (Haliaeetus leucogaster)
Elang-laut perut putih Haliaeetus leucogaster (Foto: Burung Indonesia/Fahrul Amama)

Kearifan masyarakat di berbagai daerah di Indonesia kerap menjadikan burung sebagai penanda alam, misalnya pergantian musim. Sayangnya, di tanahair kearifan lokal tersebut kian ditinggalkan seiring perkembangan jaman. Namun, hasil kajian BirdLife International bersama Audubon Society, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa burung menjadi pembawa pesan dari alam terkait adanya dampak perubahan iklim yang cenderung negatif bagi lingkungan.

Di Eropa misalnya, kenaikan suhu rata-rata tiap tahun membuat burung-burung yang beradaptasi dengan suhu dingin semakin menurun populasinya. Sebaliknya, jenis-jenis yang beradaptasi dengan suhu hangat menjadi melimpah. Seiring dengan hal tersebut, persebaran burung di Eropa dan Amerika makin bergeser ke Utara atau mendekati wilayah kutub.

Sementara di Kalimantan dan berbagai tempat lain di dunia, burung-burung pegunungan makin bergeser ke ketinggian yang lebih tinggi. “Berdasar laporan BirdLife, sebanyak 41% jenis burung di pegunungan Kalimantan bergeser ke elevasi yang lebih tinggi. Selebihnya, sebanyak 35% tidak bergeser persebarannya dan 24% bergeser ke bawah,” ujar Jihad, Bird Conservation Officer Burung Indonesia.

Sementara itu di Meksiko, berbagai daerah penting bagi keragaman hayati kehilangan jenis-jenis burung endemis akibat perubahan suhu seiring perubahan iklim.

“Laporan ini memuat berbagai bukti mengejutkan dari berbagai belahan dunia bahwa perubahan iklim telah memberikan dampak negatif pada populasi berbagai spesies,” tutur Dr Stuart Butchart, Head of Science, BirdLife International.

Selain memaparkan beragam bukti, dalam laporan ini BirdLife International juga menyampaikan solusi berbasis alam yang telah diterapkan di berbagai tempat untuk mengurangi dampak negatif perubahan iklim pada spesies, ekosistem maupun manusia.

Di Inggris misalnya, pembuatan lokasi berbiak baru yang cocok untuk jenis Eurasian Bittern menyelamatkan spesies ini dari ancaman kepunahan akibat pulau tempatnya berbiak terancam tenggelam oleh kenaikan muka laut.

Sementara di Flores, Nusa Tenggara Timur, Burung Indonesia memperkenalkan praktek adaptasi perubahan iklim kepada masyarakat di bentang alam Mbeliling. Salah satunya, masyarakat diajak aktif melestarikan hutan di kawasan ini. Selain untuk melestarikan flora dan fauna yang ada, upaya ini sekaligus bermanfaat dalam melestarikan sumber air dan penghidupan masyarakat setempat.

id_IDIndonesian