Skip to content Skip to footer

Cokelat Ini Melindungi Burung

Tahukah kamu bahwa produksi kakao masuk ke dalam daftar delapan besar komoditas yang mendorong deforestasi di kawasan tropis? Para petani lokal, didorong oleh kemiskinan, secara berkala merambah hutan untuk memperluas perkebunan mereka. Ancaman ini sulit terlacak karena tidak dilakukan oleh satu perusahaan besar yang membuka kawasan hutan secara terbuka dan luas, tetapi oleh sejumlah pemilik lahan kecil yang melakukan perambahan setiap tahun.

Hal tersebut memang terdengar ironis. Tapi ada kabar lain. Para petani di Desa Mekarti Jaya di Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, telah menjadi bagian dari inisiatif konservasi baru yang berupaya mengangkat mereka dari jurang kemiskinan sekaligus melindungi hutan Randangan yang hijau. Di hutan ini dapat ditemukan dua jenis julang endemis Sulawesi: julang sulawesi (Rhyticeros cassidix) dan kangkareng sulawesi (Rhabdotorrhinus exarhatus)—keduanya dinyatakan sebagai jenis burung yang rentan terhadap kepunahan (Vulnerable) secara international.

Tanpa akses terhadap pelatihan pertanian, para petani lokal hanya mendapatkan sedikit penghasilan dari perkebunan kakao mereka. Hama merusak buah kakao dan penggunaan pupuk kimia secara eksesif terus mengurangi nutrisi tanah. Tampaknya, satu-satunya pilihan adalah terus menebang hutan dan mengekspansi perkebunan kakao. Khawatir oleh perambahan ini, pada 2015, Burung Indonesia memulai pendekatan pertanian yang baru bagi para petani kakao agar dapat meningkatkan pendapatan mereka tanpa perlu memperluas lahan pertanian. Kakao memang bukan satu-satunya pilihan, tetapi pada akhirnya, ini menjadi solusi terbaik selama dipraktikkan secara berbeda dari sebelumnya.

Pada tahun berikutnya, Burung Indonesia mengundang enam desa (termasuk Desa Makarti Jaya) untuk menjadi bagian dari desa yang mengimplementasikan skema agroforestri baru. Inisiatif ini telah berhasil melakukan perubahan baik bagi bentang alam dan masyarakat. Para petani kini menanam pohon-pohon lokal dan bibit kakao di antara tanaman pangan, sehingga memungkinkan ternak untuk berteduh di bawahnya. Mosaik dari berbagai spesies ini membentuk mini-ekosistem mandirinya sendiri. Limbah ternak dan kakao menjadi pupuk organik, dan penerapan teknik “sarungisasi” berhasil mengurangi serangan hama sebesar 90%. Terobosan ini berhasil meningkatkan pendapatan dan mengurangi ketergantungan petani terhadap penggunaan pupuk kimia.

Timbal baliknya, para petani mesti menyetujui agar tidak melakukan perburuan satwa, perambahan hutan, dan penggunaan obat-obatan kimia pertanian secara eksesif—dan di atas itu semua, tidak memperluas lahan pertanian mereka. Untungnya, mereka tidak perlu melakukan itu lagi. Bukan hanya kini mereka dapat menjual lebih banyak kakao, tetapi juga mendapatkan harga dua kali lebih tinggi.

Di Makarti Jaya, kualitas kakao menjadi sangat tinggi dan mengundang perhatian Fossa Chocolate—produsen cokelat yang mengambil sumber kakaonya dari para petani. Pada April 2019, Fossa Chocolate secara resmi merilis cokelat olahan yang dibuat secara eksklusif dari biji kakao asal Desa Makarti Jaya. Fossa menyebutnya sebagai cokelat “Burung” untuk merayakan keragaman jenis burung di Sulawesi yang mendapatkan keuntungan dari program ini.

id_IDIndonesian