Skip to content Skip to footer

Mengembalikan Keseimbangan Bumi Porodisa

Dengan praktik permakultur masyarakat di enam desa di Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, berhasil mengembangkan pekarangan rumahnya menjadi sumber bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan dapur sehari-hari, juga menjual produk olahannya sebagai tambahan penghasilan. Meningkatnya perekonomian warga telah berkontribusi menghentikan perburuan satwa endemis nuri talaud (Eos histrio talautensis) yang semula marak.

Sebelum 2016, masyarakat di Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara berjuang dengan kerusakan ekosistem yang parah. Sebab, sejak 1970-an, pestisida kimia digunakan secara masif di seluruh area perkebunan kelapa masyarakat untuk membasmi hama—khususnya belalang Sexava nubila—yang merusak kualitas dan menurunkan kuantitas kopra, komoditas andalan warga.

Sejak itu, Talaud yang dijuluki sebagai Bumi Porodisa (surga) oleh Portugis telah berubah menjadi pulau beracun. Akibatnya sangat kompleks, mulai dari penolakan masyarakat untuk mengonsumsi hasil bumi mereka sendiri, perambahan hutan, hingga perburuan nuri talaud atau sampiri yang merupakan satwa burung endemis Pulau Karakelang. Semua hal itu dilakukan karena hasil perkebunan kelapa yang rusak akibat hama.

Program merespon tantangan tersebut dengan mengintegrasikan konservasi keragaman hayati ke dalam strategi pertanian berkelanjutan. Melalui pendekatan permakultur, masyarakat dilatih dan didampingi untuk beralih ke pupuk dan pengendali hama alami yang tidak mencemari ekosistem.

Pada awalnya, permakultur dipraktikkan bersama masyarakat di lima desa dampingan yaitu Desa Bengel, Desa Rae Selatan, Desa Ambela, Desa Ensem, dan Desa Tuabatu. Keberhasilan mereka lalu didengar dan membuat dua desa lainnya, yakni Desa Dapalan dan Desa Dapihe, mereplikasi strategi tersebut. Kini, mereka telah mampu mempraktikkan permakultur secara mandiri dan menikmati sumber pendapatan baru.

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud melihat praktik positif yang berkembang di komunitas dan mendorongnya agar direplikasi di desa-desa lain. Hingga saat ini, permakultur telah diterapkan oleh masyarakat di 18 desa di Kepulauan Talaud dengan mengoptimalkan pekarangan rumah.

Pemkab juga mendukung praktik pertanian berkelanjutan dengan mengubah strategi penanganan hama belalang. Hama yang telah resisten terhadap pestisida sintetik ini sedang ditangani lewat pengendalian hayati dengan teknik penggaraman untuk membasmi telur-telurnya di dalam tanah. Subsidi pertanian yang tadinya berupa pupuk dan obat kimia kini dialihkan untuk penyediaan garam bagi desa-desa. Dengan peran pemerintah dan masyarakat, praktik baik ini tidak sekedar bertahan namun dapat berkembang kian luas.

id_IDIndonesian