Skip to content Skip to footer

Momoa, Si Kaki Besar dari Maluku

Momoa atau gosong maluku Eulipoa wallacei (Foto: Paulo Alves/Burung Indonesia)
Momoa atau gosong maluku Eulipoa wallacei (Foto: Paulo Alves/Burung Indonesia)

Pantai berpasir hitam di Desa Simau, Kecamatan Galela, Halmahera, Maluku Utara, memiliki pemandangan indah. Selain dikelilingi air laut di ketiga sisinya, pantai ini juga menawarkan pemandangan hutan mangrove serta Gunung Dukono di kejauhan.

Meskipun demikian, pengunjung setia Pantai Simau bukanlah wisatawan yang ingin berjemur atau merindukan keindahan pantai, melainkan burung-burung berkaki besar yang hanya hidup di Maluku (Provinsi Maluku dan Maluku Utara). Di daerah Ambon, burung itu dikenal dengan nama momoa. Sementara di Simau, masyarakat menyebutnya salabia. Dalam dunia ilmu pengetahuan ia lebih dikenal dengan sebutan gosong maluku (Eulipoa wallacei).

“Momoa masih berkerabat dengan maleo. Mereka termasuk dalam kelompok megapoda yaitu burung berkaki besar yang mempunyai telur besar dan tidak mengerami telurnya,” ujar Jihad, Bird Conservation Officer Burung Indonesia. Kakinya yang besar dipergunakan untuk mencari makan maupun menggali sarang.

Sosok gosong maluku sekilas mirip ayam kampung dengan bulu cokelat, tungging putih, serta kaki cokelat kekuningan. Burung ini mendiami hutan di beberapa pulau yang termasuk dalam Kepulauan Maluku. Pada malam hari, momoa meninggalkan hutan dan pergi ke pantai berpasir untuk bertelur. Di pantai itu, ia menggali lubang dan mengubur telurnya dengan pasir. Tujuannya agar panas matahari pada siang hari dapat menghangatkan pasir sehingga telur-telur tersebut dapat menetas.

Menurut Jihad, tercatat ada dua lokasi besar yang menjadi tempat bersarang burung ini yaitu Pulau Haruku di dekat Ambon serta Galela di Pulau Halmahera. Kedua tempat itu menyokong lebih dari separuh populasi total gosong maluku. Sarang-sarang gosong maluku di Halmahera dibuat di pantai berpasir dan semak pesisir di tepi pantai hingga ketinggian 1.500 m di atas permukaan laut.

Gosong maluku menggali sarang dan bertelur di malam hari. Menurut Nggode, salah seorang warga Simau, hampir setiap hari salabia bertelur di pantai di desanya. Namun, pada hari-hari bulan baru alias bulan gelap, jumlah salabia yang bertelur jauh lebih sedikit dibanding pada saat bulan purnama.

Berdasar penelitian Gillian Baker dari University of Sussex, Inggris, ada beberapa kemungkinan penyebab momoa lebih memilih bertelur saat bulan purnama. Bulan purnama diduga berperan dalam mengurangi risiko predasi telur oleh pemangsa. Ketika langit terang, momoa dapat melihat predator dengan lebih jelas sehingga dapat menghindar. Dugaan lain, bulan purnama berperan dalam menyerentakkan waktu bertelur bagi salabia serta sebagai alat bantu navigasi bagi burung ini untuk menemukan lokasi bersarang.

Sayangnya, strategi itu belum bisa menyelamatkan gosong maluku dari ancaman kepunahan. Momoa saat ini masuk dalam kategori Rentan punah. Pemangsa utama telurnya, manusia, masih kerap memburu sarang-sarang momoa dan mengambil semua telurnya. Di Simau, warga mulai sadar akan ancaman ini sehingga selain aktif berpatroli, mereka juga membatasi jumlah telur momoa yang boleh diambil demi kelestarian si kaki besar dari Maluku ini.

id_IDIndonesian