Skip to content Skip to footer

Rumah Burung Terakhir di Teluk Jakarta

Pada 25 Januari 2020, Burung Indonesia bersama para anggota perhimpunan melakukan penghitungan burung air di Suaka Margasatwa Pulau Rambut, DKI Jakarta. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Keanggotaan dan menjadi tahun ketiga Burung Indonesia berpartisipasi dalam Sensus Burung Air Asia (Asian Waterbird Census), bagian dari International Waterbird Census (IWC) yang digelar secara global setiap tahun.

Sebagai salah satu dari tujuh situs Ramsar yang berperan penting bagi pelestarian lahan basah, ragam vegetasi yang tumbuh di Pulau Rambut mendukung burung-burung air untuk berbiak, mencari makan, dan beristirahat. Kawanan burung seperti bangau bluwok (Mycteria cinerea), kuntul (Egretta), cangak abu (Ardea cinerea) dan lainnya yang bertengger di atas jejeran pohon mangrove menjadi pemandangan yang lumrah di pulau ini.

Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, tercatat sebanyak kurang lebih 50 individu bangau bluwok berhasil teramati. Sejak 2016, bangau bluwok dinyatakan berstatus Genting (Endangered/EN) terhadap kepunahan oleh Badan Konservasi Dunia (International Union for Conservation of Nature/IUCN). “Saat ini, SM Pulau Rambut merupakan habitat utama bangau bluwok di Pulau Jawa karena sudah tidak ditemukan lagi aktivitas burung ini di tempat lain,” jelas Ferry Hasudugan, Biodiversity Specialist Burung Indonesia.

Selain menjadi rumah bagi burung air, SM Pulau Rambut juga menjadi tempat peristirahatan kawanan burung migrasi. Salah satunya ialah cikalang christmas (Fregata andrewsi) yang terbang dari Pulau Christmas, Australia untuk mendapatkan pakan yang berlimpah karena cuaca ekstrem di daerah asalnya. “Cikalang christmas merupakan burung laut migran yang diurnal, artinya burung yang aktif pada siang hari. Mereka terbang dan bertengger di atas tonggak untuk mencari atau merebut makanan dari jenis burung lain. Sedangkan di malam hari, mereka akan bertengger dan beristirahat,” lanjut Ferry.

Saat ini, status cikalang christmas adalah Kritis (Critically Endangered/CR). Bahkan, digolongkan sebagai jenis yang dilindungi oleh IUCN. Alih fungsi lahan dan polusi sampah plastik hingga saat ini masih menjadi ancaman, tidak hanya bagi burung, namun juga bagi keragaman hayati lainnya. Oleh karena itu, melalui kegiatan ini Burung Indonesia tidak hanya memperkenalkan anggota perhimpunan kepada keragaman hayati yang ada, namun juga mengajak anggota perhimpunan untuk terus menjaga alam. (NAN)

id_IDIndonesian