Skip to content Skip to footer

Sensus Burung Air di Kerajaan Burung Jakarta

Sebagai negara kepulauan, Indonesia merupakan wilayah penting bagi jenis burung air, baik penetap maupun ruaya. Di sepanjang garis pantai dan hamparan lumpur serta mangrove, habitat burung-burung air melengkapi ekosistem lahan basah di Indonesia.

Burung air dan lahan basah merupakan bagian yang tak terpisahkan. Keberadaan, jumlah, dan tren populasi di habitatnya dapat menunjukkan banyak hal mengenai kualitas lahan basah. Dalam kehidupan sosial, burung-burung air pun memiliki fungsi penting sebagai sumber pakan, rekreasi, dan jasa pariwisata. Burung-burung air menjadi penghubung antara lahan basah dan masyarakat dari berbagai latar budaya.

Setiap Januari, ribuan sukarelawan dari berbagai negara di Asia dan Australasia mendatangi lahan basah yang berada di negaranya—mulai dari pesisir pantai, danau, hingga rawa-rawa yang menjadi habitat bagi burung—dan menghitung populasi burung-burung air. Kegiatan citizen science ini merupakan bagian dari Asian Waterbird Census (AWC) yang dilaksanakan serentak pada minggu ke-2 dan ke-3 Januari. AWC merupakan bagian dari International Waterbird Census (IWC) yang bersifat global.

Di Indonesia, kegiatan ini dikoordinasi oleh Wetlands International Indonesia, bekerjasama dengan Kemitraan Konservasi Burung Bermigrasi dan Habitatnya–dimana Burung Indonesia menjadi sekretariat kemitraan.

Tahun ini Burung Indonesia mengajak anggota Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia dan masyarakat umum untuk turut serta memantau burung-burung air di Pulau Rambut, salah satu bagian dari gugusan Kepulauan Seribu, Jakarta. Pulau Rambut dikenal juga sebagai “Pulau Kerajaan Burung” karena menjadi habitat penting bagi beberapa jenis burung air seperti kuntul, cangak abu, bangau, dan lainnya.

Berdasarkan hasil pengamatan Burung Indonesia di Pulau Rambut beberapa waktu lalu, ada sekitar 60 bangau bluwok (Mycteria cinerea) yang berhasil teramati. “Artinya satu persen dari populasi bangau bluwok secara global dapat ditemukan di Pulau Rambut,” ujar Biodiversity Conservation Specialist Burung Indonesia, Ferry Hasudungan di Pulau Rambut, Sabtu (27/01).

Diperkirakan ada sekitar 5,000 individu bangau bluwok yang tersisa secara global, hampir keseluruhannya berada di Indonesia (Sumatera, Jawa, Bali, Sumbawa, Sulawesi, dan Buton). Sedangkan di Malaysia dan Kamboja yang diketahui juga menjadi habitat bagi bangau bluwok hanya tercatat puluhan individu saja. Menurut Ferry, bangau bluwok biasanya akan datang ke Pulau Rambut saat musim berkembangbiak. Pada kegiatan berlangsung, 38 individu bangau bluwok yang berhasil teramati oleh para partisipan.

[table id=15 /]

Meski cenderung dinilai sebagai kegiatan ilmiah, AWC juga tak luput dari sifat rekreasi. Menikmati keasrian pulau berstatus cagar alam sambil memantau keindahan dan aktivitas unik burung-burung air menjadi keasyikan tersendiri yang tidak dapat ditemui di sembarang tempat, terlebih di tengah keramaian kota Jakarta. Menyaksikan pemandangan kawanan koak malam, cangak merah, pecuk-padi hitam, dan bangau bluwok bertengger di atas pohon mangrove akan menjadi pengalaman yang unik bagi para partisipan. Selain itu, mereka akan didampingi oleh pemangat burung profesional yang secara rutin terlibat dalam AWC, sehingga proses identifikasi tidak terbilang sulit.

Para peserta AWC tidak hanya mengamati, tetapi juga mencatat jenis-jenis burung yang berhasil teramati ke dalam formulir yang telah disediakan. Setiap negara memiliki standar formulir yang sama. Hal yang membedakan hanya pada daftar jenis burungnya saja, karena setiap negara memiliki sebaran jenis yang berbeda-beda. Formulir yang terisi kemudian akan diserahkan kepada Wetland International Indonesia selaku koordinator AWC di Tanah Air.

“Data hasil pengamatan akan dihimpun dan dipublikasi dalam bentuk cetak melalui buku Waterbird Population Estimates dan juga dapat diakses oleh publik secara online. Dengan begitu, masyarakat umum dapat mengetahui estimasi populasi berbagai jenis burung air secara global, ataupun estimasi populasi di tiap negara,” tutur Ferry.

Berdasarkan data Wetland International, hingga saat ini ada lebih dari 6,100 lokasi di 27 negara yang telah teramati oleh ribuan sukarelawan. Informasi yang berhasil dikumpulkan kemudian dapat menjadi referensi bagi pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat, juga berkontribusi bagi aktivitas konservasi baik di tingkat lokal maupun global, seperti meningkatkan kesadartahuan masyarakat mengenai kondisi lahan basah dan burung-burung air serta mendukung aktivitas konservasi di lahan basah.

***

Burung Indonesia menyediakan wadah bagi masyarakat luas untuk menyalurkan aspirasi dan konservasi praktis untuk melestarikan burung dan habitatnya serta keragaman hayati di Indonesia. Burung Indonesia mengajak masyarakat untuk menjadi bagian dari upaya dan aksi nyata pelestarian burung dan alam di Indonesia dengan bergabung sebagai Anggota Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia.

id_IDIndonesian