Skip to content Skip to footer

Areal Hutan Makin Sempit

GORONTALO, KOMPAS – Kerusakan hutan di Gorontalo seluas 4.000 hektar per tahun semakin mengkhawatirkan. Selain dapat mengganggu habitat satwa langka, kerusakan hutan juga disinyalir menyebabkan banjir.

Demikian benang merah seminar nasional bertajuk ”Pengelolaan Bentang Alam Produktif untuk Konservasi dan Pembangunan” di Universitas Gorontalo, Selasa (20/3), di Gorontalo.

Hadir sebagai pembicara Wakil Gubernur Gorontalo Idris Rahim, Ani Mardiastuti dari Burung Indonesia (organisasi nirlaba bidang pelestarian burung di Indonesia), serta Direktur Pengukuhan dan Penatagunaan Kawasan Hutan Kementerian Kehutanan Tri Joko Mulyono.

”Setiap tahun hutan Gorontalo hilang sekitar 4.000 hektar. Penyebabnya, antara lain, penebangan liar, alih fungsi hutan menjadi pertambangan liar, dan tekanan penduduk. Kini hutan di Gorontalo tersisa sekitar 824.000 hektar,” ujar Idris Rahim.

Jika laju kerusakan hutan tidak dihentikan, ancaman terhadap keseimbangan ekosistem atau bencana alam semakin tinggi. Banjir di Gorontalo terjadi karena penggundulan hutan. Kegiatan pertambangan emas tanpa izin turut menyumbang kerusakan hutan di daerah tersebut.

Ani Mardiastuti menilai, Gorontalo berperan bagi keanekaragaman hayati di Indonesia. Selain terdapat 36 jenis burung endemik Sulawesi, juga terdapat 10 jenis mamalia endemik Sulawesi, seperti anoa, babi rusa, dan tarsius. Di beberapa kabupaten masih ada hutan tropis basah dengan kondisi relatif bagus.

”Perlu peran semua pihak untuk mencegah dampak kerusakan hutan, yaitu pemerintah, masyarakat, dan swasta. Jika tidak, dikhawatirkan laju kerusakan berpengaruh terhadap kelestarian satwa endemik dan terjadinya bencana alam,” ujar Ani.

Muhammad Djufryhard dari Jaring Advokasi Pengelolaan Sumber Daya Alam, organisasi nirlaba bidang pelestarian alam di Gorontalo, mengatakan, kebijakan pemerintah daerah turut mempercepat laju kerusakan hutan.

Salah satunya adalah kebijakan meningkatkan produksi jagung di Gorontalo. Guna mencapai target produksi jagung, sebagian masyarakat di Gorontalo menebang hutan untuk dijadikan ladang jagung. (APO)

Sumber: Kompas.com

id_IDIndonesian