Skip to content Skip to footer

Bermain Sambil Belajar Keragaman Hayati

Siang itu, di pertengahan Bulan Puasa 22 Juli 2014, beberapa anak kampung tampak serius dengan binokuler milik Burung Indonesia untuk mengamati nuri bayan Eclectus roratus yang sedang hinggap di ujung kayu kering jauh di seberang sungai. Beberapa yang lain malah asyik bermain di irigasi yang mengaliri persawahan Desa Akejawe, sebuah desa transmigran di Kecamatan Wasile Selatan, Kabupaten Halmahera Timur.

Seusai asyik bermain di luar, merekapun mulai masuk ke dalam rumah kebun milik Roji. Bapak tiga anak ini adalah seorang warga Akejawe yang kerap mengikuti kegiatan survei Burung Indonesia, dan kini menjadi salah satu kader konservasi Balai Taman Nasional Aketajawe-Lolobata.

Di rumah panggung sederhana itu belasan anak sekolah dasar bertemu tim Burung Indonesia Program Halmahera untuk bermain sambil belajar mengenal alam. Anak-anak diajak bermain kuis menebak sketsa burung yang digambar salah satu volunteer Burung Indonesia, Paulo Alves. Anak yang lebih dahulu tahu jawabannya diminta maju ke depan untuk menjelaskan kepada yang lain tentang jenis burung yang digambar dengan bantuan buku panduan burung Wallacea. Rupanya dari 20 jenis burung yang digambar, hampir semua berhasil ditebak.

Beragam kreativitas pun muncul untuk menjelaskan jenis burung yang digambar. Dewananda, misalnya, menyilangkan kedua tangannya layaknya seruling lantas bersiul ‘’fo-fo, fo-fo’’ ketika melihat Paulo menggambar paok halmahera. Teman-temannya pun tertawa, “ayo ulangi lagi suara burung fofo-nya!” Sementara sebagian yang lain sudah fasih menyebutkan nama ilmiahnya, Pitta maxima. Ia pun mengulanginya sampai bosan, meladeni teman-temannya yang menyukai siulannya karena memang mirip dengan salah satu burung endemik Maluku Utara itu.

Memang banyak anak-anak di Akejawe yang sudah hafal dengan beberapa jenis burung di Halmahera. Sebut saja burung taong atau julang papua Rhyticeros plicatus, kakatua putih Cacatua alba, kasturi ternate Lorius garrulus, nuri bayan Eclectus roratus, fofo atau paok halmahera Pitta maxima, bidadari halmahera Semioptera wallacii, dan gosong kelam Megapodius freycinet. Kabetulan desa yang merupakan pemekaran dari Desa Binagara ini berbatasan langsung dengan hutan Taman Nasional Aketajawe-Lolobata. Anak-anak kerap melihat jenis-jenis burung tersebut saat bermain di pinggiran hutan.

Selain belajar jenis-jenis burung, anak-anak juga dikenalkan dengan keragaman jenis tumbuhan. Untuk hal ini, Roji yang menyempatkan diri mencari sampel bermacam jenis tumbuhan dari hutan kemudian menerangkan tentang sosok pohon maupun kegunaannya. Setelah itu, anak-anak diberi tugas mencari lagi jenis daun yang sama dengan dedaunan yang telah tertempel di papan.

Dedaunan yang dimaksud tentunya berasal dari tumbuhan yang ada di sekitar lokasi kegiatan. Anak-anak pun langsung berlarian, mencari daun yang mereka kenali. Pengenalan keragaman hayati ini dilakukan dalam rangka Merayakan Keragaman Burung di Indonesia 2014. Namun, kegiatan ini sudah sering dilakukan bersama anak-anak di Akejawe, meski biasanya hanya diselipkan di sela kegiatan lain. Meski dilakukan sambil bermain, tapi aktivitas ini dapat mengenalkan anak-anak terhadap keragaman flora-fauna di sekitar mereka sehingga mereka tergerak untuk mencintainya. (Irfan Rosyadi)

id_IDIndonesian