Skip to content Skip to footer

Bupati Manggarai Barat Dukung Upaya Pelestarian Alam di Bentang Alam Mbeliling, Flores

Kabupaten Manggarai Barat, yang terletak di ujung barat pulau Flores memiliki bentang alam yang tersusun oleh mosaik ruang yang bervariasi, mulai dari hutan, kebun/wanatani, persawahan, hingga pemukiman. Kawasan yang dikenal sebagai bentang alam Mbeliling ini, sangat penting karena menyediakan berbagai jasa ekosistem, termasuk penyediaan air untuk pertanian maupun kebutuhan air bersih, termasuk untuk Labuan Bajo.

Bupati Manggarai Barat Drs. Agustinus Ch Dula, mengajak para pihak, untuk bersama melestarikan hutan Mbeliling di Manggarai Barat dan segala kekayaannya. Ajakan ini disampaikan dalam sambutannya di acara “Semiloka Pengelolaan Keanekaragaman Hayati di Bentang Alam Mbeliling” di Hotel La Prima, Labuan Bajo yang diselenggarakan oleh Burung Indonesia bersama Komite Mbeliling.

Pertemuan ini dihadiri oleh perwakilan dari lembaga swadaya masyarakat (LSM), Forum Peduli Kawasan Mbeliling (FPKM), pemerhati lingkungan, tokoh agama, tokoh masyarakat, Balai Taman Nasional Komodo, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) NTT, Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) serta pimpinan Satuan Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Barat.

Bupati Manggarai Barat Dukung Upaya Pelestarian Alam di Bentang Alam Mbeliling, FloresFPKM merupakan forum masyarakat di bentang alam Mbeliling, sementara Komite Mbeliling merupakan forum diskusi multi- dalam rangka mendorong pengelolaan bentang alam Mbeliling yang berkelanjutan.

Pada pertemuan ini, Agustinus menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang peduli dalam mewujudkan bentang alam Mbeliling yang produktif dan berkelanjutan. “Saya Bupati Manggarai Barat, pemimpin daerah ini, konsisten untuk tidak memberikan ijin kegiatan tambang” ujar Agustinus.

Burung Indonesia, sejak tahun 2007 telah melakukan berbagai kajian ilmiah guna mengidentifikasi dan menginventarisasi keanekaragaman hayati di bentang alam Mbeliling. Kajian berseri ini melibatkan berbagai pihak yang kompetens. Salah satu kajian ilmiah yang dilakukan pada tahun 2013 adalah studi populasi dan sebaran biawak komodo di wilayah desa Golo Mori dan Tanjung Kerita Mese di sepanjang pesisir selatan bagian barat pulau Flores. Sumber pustaka juga menyebutkan bahwa biawak komodo juga ditemukan di lokasi-lokasi tertentu sepanjang pesisir utara Pulau Flores. Kajian tersebut terlaksana atas kerjasama dengan Balai Besar KSDA NTT dan Komodo Survival Program.

Pengelolaan bentang alam yang berkelanjutan merupakan kunci dari pelestarian alam dan keanekaragaman hayati. Peran para pihak, baik masyarakat dan pemerintah, sangat penting dalam proses pengambilan keputusan untuk mendorong pengelolaan yang berkelanjutan tersebut. Hasil kajian ilmiah merupakan salah satu informasi kunci dalam pengambilan keputusan dan kebijakan.

id_IDIndonesian