Skip to content Skip to footer

Kolaborasi Bangun Ketahanan Jangka Panjang dan Strategis terhadap Perubahan Iklim

Indonesia Climate Alliance (ICA) atau Aliansi Perubahan Iklim Indonesia, bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Bappenas, ICCTF, dan UNDP menggelar Climate Week pada tanggal 6-9 Oktober 2015 di Jakarta. Acara ini mengusung tema Building Climate Change Resilience Network. Melalui Climate Week, ICA mengajak berbagai pemangku kepentingan seperti pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), maupun sektor swasta untuk turut membangun ketahanan nasional terhadap dampak perubahan iklim.

Indonesia termasuk negara yang rentan dampak perubahan iklim. Dampak ini dapat dirasakan berbagai lapisan masyarakat. Masyarakat pesisir, misalnya, terancam cuaca dan gelombang ekstrem. Sementara itu para petani terancam perubahan musim yang sulit diprediksi. Masyakat umum yang bergantung pada pasokan komoditas pesisir dan pertanian pun tak luput dari dampak ini. Perubahan musim yang ekstrem juga dapat mengganggu kehidupan flora fauna yang hidup di Indonesia terutama jenis-jenis terancam punah yang hanya hidup di pulau-pulau kecil. Fenomena seperti ini akan semakin parah jika tidak ditangani dengan baik oleh berbagai pihak di Indonesia.
Dalam acara Climate Week, pemerintah menyampaikan sederet kebijakan yang telah disusun demi membangun ketahanan masyarakat. Para praktisi dan akademisi juga menyampaikan masukannya dari kajian ketahanan terhadap perubahan iklim, begitu pun sektor swasta memberikan dukungan sesuai dengan kapasitasnya.

Burung Indonesia sebagai Badan Pengurus transisi ICA dalam acara ini memaparkan pengalaman praktik membangun ketahanan ekosistem berbasis komunitas di Bentang Alam Mbeliling, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Selain itu, Burung Indonesia yang bertindak sebagai Tim Pelaksana Regional Dana Kemitraan Ekosistem Kritis (CEPF) Wallacea juga memaparkan program kemitraan konservasi CEPF di kawasan Wallacea. Sejak 2015 hingga lima tahun kedepan, CEPF akan memberikan hibah kepada organisasi masyarakat sipil yang bekerja untuk pelestarian keragaman hayati.

Climate Week terdiri dari rangkaian diskusi di antara para pemangku kepentingan untuk berbagi ide, gagasan, dan kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan terkait upaya adaptasi perubahan iklim. Kegiatan ini dilakukan untuk dapat mendorong proses pembelajaran, replikasi, kemitraan dan kolaborasi dalam membangun ketahanan terhadap dampak perubahan iklim.

Climate Week diharapkan dapat melahirkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan yang lebih komprehensif dalam sebuah jejaring dan terbangunnya kesamaan pemahaman dalam upaya membangun Indonesia yang berketahanan terhadap perubahan iklim. Sebab, ketahanan akan lebih mudah diaplikasikan jika sudah ada satu kesamaan pandangan antara pemangku kepentingan. Pembangunan dengan prioritas sektor dan daerah yang rentan juga menjadi poin penting dalam acara ini.*

id_IDIndonesian