Skip to content Skip to footer

Konsultasi Publik Profil Ekosistem Wallacea

Konsultasi Publik Profil Ekosistem WallaceaKawasan Wallacea yang meliputi kepulauan nusantara di sebelah timur Bali hingga sebelah barat Papua (Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara) serta Timor-Leste, kaya keragaman hayati. Wallacea juga terkenal dengan jenis-jenis endemis yang tidak dijumpai di tempat lain.

Pentingnya keberadaan Wallacea ini dibahas dalam acara Konsultasi Para Pihak untuk Pengembangan Pendanaan Pelestarian Alam Berkelanjutan di Wallacea pada 28 Januari 2014. Hadir perwakilan para pemangku kepentingan dari berbagai daerah di Nusa Tenggara, Sulawesi dan Maluku di kegiatan tersebut.

Acara yang digelar oleh konsorsium Burung Indonesia yang tergabung dalam Tim Penyusun Profil Ekosistem Wallacea bekerjasama dengan Kementrian Kehutanan itu ditujukan untuk menampung masukan berbagai pihak terkait rancangan awal Profil Ekosistem Wallacea. Harapannya, usulan daerah penting bagi keragaman hayati (KBA) dan arahan strategis untuk Dana Kemitraan Ekosistem Kritis (CEPF) yang termuat dalam dokumen akhir Profil Ekosistem nantinya telah disetujui berbagai pihak.

Selain para pemangku kepentingan dari berbagai daerah di Wallacea, acara tersebut juga dihadiri Direktur Hibah CEPF, Daniel Rothberg, maupun pihak-pihak terkait di lingkup pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, serta swasta. Acara dibuka oleh Direktur Burung Indonesia, Agus Budi Utomo dan Dr. Ir. Novianto Bambang W, M.Si, Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA).

Ir Wahjudi Wardojo, praktisi konservasi sekaligus pembicara kunci dalam acara ini menuturkan pentingnya Wallacea untuk dunia. “Indonesia adalah negara super power dalam hal keragaman hayati dan Wallacea adalah pusat keragaman hayati Indonesia,” ujarnya. Indonesia menduduki peringkat ke dua atau tiga dalam hal kekayaan keragaman hayati (kehati) darat dan peringkat pertama untuk kehati laut.

Namun, dalam hal negosiasi di pentas politik global, Indonesia belum menempatkan diri sebagai negara super power. Menurut mantan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) itu, Indonesia belum cukup percaya diri, sehingga dalam politik global untuk keragaman hayati masih menempatkan diri di tengah-tengah. Salah satu implikasinya, urusan kehati kurang mendapat perhatian dalam perencanaan pembangunan.

Padahal, Indonesia perlu pembangunan yang terencana dengan benar melalui analisis berbagai aspek termasuk aspek ekologi dan sosial. “Dalam hal ini CEPF telah melakukan langkah tepat dengan membuat profil ekosistem,” tutur Wahjudi. Profil Ekosistem Wallacea diharapkan tidak hanya dimanfaatkan oleh CEPF tetapi juga dapat dimanfaatkan oleh pemerintah dan pihak-pihak terkait untuk merencanakan pembangunan lebih ramah lingkungan.

Selain itu, meski bantuan CEPF relatif kecil untuk ukuran Wallacea yang luas dan memiliki banyak jenis terancam punah serta habitat penting, tetapi dapat menjadi tuas bagi pendanaan pelestarian alam yang berkelanjutan. Berdasar hasil analisis tim penyusun Profil Ekosistem Wallacea, Wallacea memiliki 391 daerah penting bagi keragaman hayati. Selain itu, hampir separuh dari 561 spesies terancam punah di Wallacea merupakan jenis endemik.

Sementara itu Dan Rothberg dalam presentasinya menuturkan bahwa meski pihak pemerintah dan swasta yang turut hadir dalam acara tersebut tidak akan menerima hibah, tetapi peran mereka sangat besar untuk pelaksanaan hibah CEPF ke depan. Mereka diharapkan dapat mendorong masyarakat lokal untuk mengajukan proposal, mempromosikan tujuan CEPF dan profil ekosistem yang telah disusun maupun turut berkontribusi dengan memberikan hibah bersama (co-funding).

id_IDIndonesian