Skip to content Skip to footer

Lebih Dekat Dengan Prangko “Burung Terancam Punah Indonesia”

Burung Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Kehutanan, Kementerian Komunikasi dan Informatika, dan PT. Pos Indonesia telah meluncurkan prangko seri “Burung Terancam Punah Indonesia” sekaligus penandatanganan Sampul Hari Pertama (SHP) di Bogor, Minggu (15 Juli). Prangko unik itu dicetak sebanyak 50 ribu lembar dalam bentuk minisheet dan 300 ribu lembar untuk fullsheet.

Empat jenis burung terancam punah yang menghiasi prangko tersebut merupakan jenis-jenis burung endemik terancam punah yang terdapat di kawasan Wallacea. Keempat jenis itu adalah elang flores (Nisaetus floris), celepuk siau (Otus siaoensis), mandar gendang (Habroptila wallacii), dan burung-madu sangihe (Aethopyga duyvenbodei).

Elang flores (Nisaetus floris)

Elang flores (Nisaetus floris) merupakan burung berukuran 71-82 cm yang hanya terdapat di pulau Lombok (pada batas Taman Nasional Rinjani), Sumbawa dan Flores, serta pulau kecil Satonda dan Rinca. Elang berukuran besar jenis penetap ini hanya dijumpai di hutan dataran rendah ketinggian 1.000 m di atas permukaan laut (dpl).

Sebagai salah satu jenis burung pemangsa di daerah tropis, elang flores diyakini memiliki spesialisasi terhadap kondisi hutan yang rapat, dengan mengembangkan teknik berburu seperti layaknya burung pemangsa tropis lainnya: berburu dari tenggeran dan melalang buana memanfaatkan aliran udara panas (thermal soaring).
Tahun 2004, setelah melakukan pendekatan genetika, morfologi dan pola persebaran, para ahli taksonomi menetapkan jenis yang berkerabat dekat dengan elang brontok (Nisaetus cirrhatus) ini sebagai jenis tersendiri.

Berbeda dengan taksa induknya, kelompok elang Hawk-eagle ini berukuran lebih besar, tanpa jambul dan tidak ada perbedaan morfologi yang nyata antara tingkatan umur anak (juvenile) dan dewasa (adult), seperti halnya pada elang brontok atau kelompok elang Hawk-eagle lainnya. Dengan demikian, elang flores merupakan taksa endemik dan tersebar terbatas di kawasan Nusa Tenggara, Indonesia.

Berdasarkan temuan dan tetapan dari hasil telaah genetika tersebut, para ahli kemudian menetapkan marga Spizaetus di Asia tenggara sebagai Nisaetus, mempertegas perbedaan dengan Hawk-eagle di Amerika selatan (yang tetap dipertahankan sebagai Spizaetus), dan meniadakan marga Spizaetus di Afrika.
Populasi yang hanya 100 pasang dan kecenderungan yang menurun karena kerusakan dan kehilangan habitat yang diperparah dengan penangkapan dan perdagangan ilegal, menjadikan Badan Konservasi Dunia (IUCN) pada tahun 2009 menetapkan elang flores sebagai jenis Kritis (Critically Endangered/CR).

Celepuk siau (Otus siaoensis)

Celepuk siau (Otus siaoensis) merupakan burung hantu yang termasuk dalam kelompok Strigidae. Informasi keberadaan jenis ini hanya berdasarkan spesimen yang dikoleksi Pulau Siau, Sulawesi Utara, pada 1866. Sebelumnya, burung berukuran 17 cm ini dianggap anak jenis dari celepuk maluku (Otus magicus) hingga tahun 1998 ditetapkan sebagai jenis tersendiri yang hanya terdapat di Pulau Siau.

Celepuk siau merupakan satu-satunya jenis celepuk yang terdapat di Pulau Siau. Jenis ini sangat bergantung terhadap hutan dan seperti anggota celepuk lainnya, diduga mencari makan berupa hewan invertebrata malam.

Burung ini diketahui sebagai jenis endemik yang hanya hidup di Pulau Siau di Kabupaten Kepulauan Sitaro (Siau-Tagulandang-Biaro), Propinsi Sulawesi Utara. Pulau Siau termasuk pulau kecil dengan Gunung Karangetang, gunung berapi yang sangat aktif, di sebelah utara. Sementara di bagian tengah pulau terdapat Gunung Tamata, bekas gunung berapi yang sudah tidak aktif lagi. Hutan yang yang tersisa di Pulau Siau sudah sangat sempit dan berada di puncak Gunung Tamata.

Hingga tahun 1995  habitat celepuk siau diketahui masih ada di sekitar Danau Kepetta yang terletak di bagian Selatan Pulau Siau. Tetapi hutan yang sudah tinggal sedikit itu pun kemudian dibuka dan dijadikan lahan pertanian. Hutan yang masih tersisa hanyalah di sekitar puncak Gunung Tamata seluas 50 hektar, di ketinggian di atas 800 m.

Diperkirakan populasinya tidak lebih dari 50 individu dewasa. Kecilnya habitat yang sesuai dengan tingkat deforestasi yang diperkirakan cukup tinggi di Pulau Siau menjadikan jenis ini berstatus Kritis (Critically Endangered/CR). Survei menyeluruh diperlukan untuk melengkapi informasi ekologi dan jumlah populasinya.

Mandar gendang (Habroptila wallacii)

Mandar gendang (Habroptila wallacii) merupakan jenis yang hanya dijumpai di Pulau Halmahera, Maluku Utara. Burung berukuran 40 cm yang tidak dapat terbang ini tubuhnya didominasi bulu abu-abu gelap agak kecoklatan pada bagian sayap, punggung bawah dan ekor. Paruhnya panjang dan kuat

Burung misterius ini diperkirakan mendiami hutan rawa sagu lebat terpencil yang sulit diakses. Perilaku uniknya yang suka mengendap-endap membuatnya sulit dilihat. Berdasarkan hilangnya habitat akibat dari pemanenan sagu secara komersil, populasi mandar gendang diperkirakan terus menurun termasuk juga akibat dari predator dan aktivitas perburuan. Meskipun demikian, survei yang dilakukan Burung Indonesia pada 2008 dan 2010 berhasil menambah informasi penting terkait perkembangbiakan dan ekologi mandar gendang di alam liar.

Diperlukan survei intensif guna melengkapi minimnya informasi jenis ini. Populasinya diperkirakan berjumlah antara 2.500-9.999 individu dewasa. International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) menetapkan statusnya Rentan (Vulnerable/VU).

Burung-madu sangihe (Aethopyga duyvenbodei)

Burung-madu sangihe (Aethopyga duyvenbodei) merupakan jenis burung-madu berukuran 12 cm yang hanya dapat dijumpai di Pulau Sangihe, Sulawesi Utara. Burung ini memiliki warna yang cerah, sebagaimana umumnya warna burung madu. Ciri khas burung ini terutama yang jantan adalah memiliki bulu penutup telinga dan kerah belakang berwarna ungu-kemerahan, bermahkota hijau-dan-biru metalik, serta punggungnya berwarna zaitun kekuningan. Sementara yang betina memiliki warna lebih pucat.

Di Pulau Sangihe, burung ini sangat tergantung pada hutan alami, meskipun dapat dijumpai di perkebunan-campuran, kebun kelapa dan pinggir hutan yang berdekatan dengan hutan primer hingga pada ketinggian hingga 1.000 m di atas permukaan laut (dpl).

Kebiasaannya adalah mencari nektar pada bunga kelapa dan bunga lain, mencari avertebrata dibalik dedaunan, dan sering mengunjungi tanaman yang kaya akan serangga. Biasanya, burung ini terlihat sendiri atau berpasangan dan terkadang juga dalam kelompok-jenis campuran bersama burung-madu lain atau burung cabai.
Kepadatannya sangat rendah, kecuali di satu lokasi: Pegunungan Sahendaruman. Populasinya di alam diperkirakan antara 13.000-29.000 individu dewasa.

Menyusutnya hutan primer dan sekunder menyebabkan Badan Konservasi Dunia (IUCN) menempatkannya sebagai jenis yang Genting (Endangered/EN).

Penulis: FPA/DWI/RMR

id_IDIndonesian