Skip to content Skip to footer

Lestarikan Bentang Alam, Burung Indonesia Promosikan Ekonomi Hijau

Maba–Setahun terakhir Burung Indonesia mempromosikan pembangunan ekonomi hijau di Kabupaten Halmahera Timur melalui berbagai aktivitas yang meliputi dua aspek utama yaitu pengembangan usaha masyarakat yang ramah lingkungan dan peningkatan kapasitas para pihak dalam pengeloaan tata guna lahan berkelanjutan.

Kedua aspek tersebut dilakukan dengan didasarkan pada hasil kajian yang komprehensif dan menggunakan fakta lapangan. Hal ini diungkapkan dalam acara ramah tamah Burung Indonesia dan diskusi untuk menyemarakkan perayaan hari ulang tahun Kabupaten Halmahera Timur ke-9 bertempat di aula Bappeda, Selasa (29/5).

Ekonomi Hijau atau yang sering disebut Ekonomi Rendah Karbon adalah pembangunan ekonomi yang menghasilkan peningkatan kesejahteraan manusia dan kesetaraan sosial, sementara secara signifikan mengurangi risiko lingkungan dan kelangkaan ekologis.

Muhamad Muslich, Conservation Program Officer Burung Indonesia mengatakan bahwa program yang dilakukan tidak terlepas dari upaya untuk mendukung kebijakan nasional pengurangan emisi gas rumah kaca yang menyebabkan perubahan iklim. “Hutan menjadi fokus utama kita. Secara nasional, emisi yang paling besar berasal dari aspek tata guna lahan dan kehutanan. Prosentasenya mencapai 47%” kata Muslich.

Pelaksanaan program didukung dengan berbagai kajian yang meliputi analisis spasial tata guna lahan, penghitungan nilai ekonomi ekosistem dan keanekeragaman hayati, kajian tenurial, kajian ekonomi rumah tangga, dan analisis keuangan pengembangan wanatani (kebun campuran).

Dalam rangka pengembangan usaha ekonomi masyarakat, Burung Indonesia memfasilitasi beberapa pelatihan diantaranya; pelatihan wanatani, pelatihan ekonomi kreatif, pelatihan kelembagaan, dan diskusi mekanisme peluang pendanaan. Sementara itu untuk peningkatan kapasitas para pihak di kabupaten, Burung Indonesia memfasilitasi pelatihan pemetaan, belajar bersama antar penyuluh, dan kunjungan silang ekowisata ke Makassar.

Farid Zulfikar, Community Business Development Burung Indonesia menegaskan bahwa pembangunan ekonomi Halmahera jangan hanya memfokukan pada pengembangan investasi konglomerasi, tetapi juga memperkuat ekonomi pada tingkat rumah tangga. “Sumber-sumber penghidupan ekonomi masyarakat seperti sawah, kebun campuran, sagu, dan hutan alami juga harus dipertahankan kualitasnya untuk memastikan penghidupan masyarakat terus berlanjut” Kata Farid.

Saat ini Kabupaten Halmahera Timur masih memiliki banyak pilihan untuk mengelola sumberdaya alamnya dengan sebaik-baiknya. Halmahera Timur masih memiliki tutupan hutan alami yang baik yang memberikan ruang hidup bagi kekayaan jenis keanekaragaman hayati dan sumber ekonomi masyarakat. Di sisi yang lain hutan juga memainkan peranan penting dalam upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim karena keberadaannya berperan sebagai penyerap dan penyimpan karbondioksida yang merupakan komposisi emisi terkuat.

“Upaya ini diharapkan dapat memfasilitasi proses-proses komunikasi dan peningkatan kapasitas para pihak di daerah guna mendorong kebijakan pemanfaatan bentang alam yang lestari, termasuk dalam lingkup Maluku Utara” Kata Muslich.

Jefry Famboyan perwakilan masyarakat Desa Foli Kecamatan Wasile Tengah berharap proses-proses pengembangan usaha yang telah dilakukan di desa terus dilanjutkan oleh pemerintah kabupaten melalui dinas dan instansi terkait.

Keterangan lebih lanjut:

Muhamad Muslich
Conservation Project Officer
Email: m.muslich@burung.org
Hp: 08138 1234 648

Farid Zulfikar
Community Business Development
Email: f.zulfikar@burung.org
Hp: 0812 6636 194

Catatan Redaksi

  • Pers release ini merupakan bagian dari kegiatan Burung Indonesia untuk merefleksikan satu tahun bekerja mempromosikan pembangunan ekonomi hijau atau ekonomi rendah karbon di Kabupaten Halmahera Timur. Refleksi ini bertujuan untuk mendapatkan masukan dan rekomendasi tindak lanjut program yang dapat diteruskan oleh para pihak di Kabupaten Halmahera Timur.
  • Emisi Gas Rumah Kaca merupakan komposisi gas yang terdapat di atmosfer dan didominasi oleh karbondioksida (CO2) dan metan (CH4). Penumpukkan gas rumah kaca menyebabkan sinar ultraviolet yang masuk ke dalam bumi akan dipantulkan kembali ke bumi. Sehingga menyebakan suhu bumi semakin meningkat. Karbondioksida (CO2) dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar fosil, termasuk pembakaran hutan, perubahan tata guna lahan hutan, dan hilangnya lahan gambut. Sementara methan (CH4) diproduksi oleh aktivitas pertenakan dan pengolahan sampah.
  • Secara nasional Indonesia telah berkomitmen dalam menurunkan emisinya sampai dengan 26 % pada tahun 2020 dengan biaya sendiri dan dapat menurunkan sampai dengan 41 % dengan bantuan internasional. Demi mengawal komitmen Indonesia, berbagai sektor telah merancang berbagai program untuk berkontribusi dalam penurunan emsisi Gas Rumah Kaca tersebut, termasuk kebijakan penerapan ekonomi hijau.
  • Burung Indonesia adalah organisasi nirlaba (non profit) dengan nama lengkap Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia atau disingkat Burung Indonesia berdiri 15 Juli 2002 yang menjalin kemitraan dengan BirdLife International. Burung Indonesia yang berkantor pusat di Bogor, bekerja di wilayah Sumatera, Flores, Sumba, Gorontalo, Sangihe-Talaud, Buru, Yamdena, dan Maluku Utara.
  • Burung Indonesia mengarahkan fokus pekerjaan kepada pelestarian jenis-jenis burung yang terancam punah, lokasi penting bagi keanekaragaman hayati, habitat, dan pengembangan masyarakat.

{jcomments on}

id_IDIndonesian