Skip to content Skip to footer

Pariwisata – Menanti Si Cantik Aroweli di Rawa Aopa

Burung bangau langka aroweli (Mycteria cinerea) terbang melintasi Rawa Aopa di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai, Sulawesi Tenggara, Rabu (14/12). Rawa seluas 12.000 hektar di taman nasional ini menjadi surga bagi 40 spesies burung air.(KOMPAS/MOHAMAD FINAL DAENG)

Sudah hampir dua jam lamanya rombongan kami menyusuri Rawa Aopa di Sulawesi Tenggara. Matahari tengah bersiap turun ditemani langit berpayung mendung. Saat perahu mengarah pulang ke dermaga, rerimbunan pandan air yang menutupi salah satu sudut rawa mendadak gaduh.

Tak disangka-sangka, dari balik rerimbunan itu muncul seekor burung besar yang terbang dengan jarak hanya 15 meter di depan perahu. Sosoknya terlihat jelas dengan kepakan sayap lebar memecah keheningan rawa.

”Nah, itu dia. Aroweli! Aroweli!” ujar Mustari Tepu setengah bersorak seolah memanggil-manggil sang burung. Mustari adalah petugas pengendali ekosistem hutan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai yang memandu kami menyusuri rawa itu.

Mustari kegirangan bukan main saat melihat burung bernama Latin Mycteria cinerea, yang dikenal juga dengan nama bangau bluwok atau bangau putih susu, itu. Aroweli adalah nama lokal burung cantik tersebut di Sulawesi Tenggara.

Meski atraksi aroweli hanya bisa dinikmati kurang dari semenit sebelum menghilang di angkasa, ketakjuban dan kegembiraan karena berhasil menemukan burung itu lama membekas. Senyum terus menempel di wajah Mustari.

Maklumlah, burung air satu ini termasuk kategori langka dan dilindungi. Dari data BirdLife International, diperkirakan populasi spesies ini di seluruh dunia kurang dari 5.500 ekor dengan persebaran utama di Kamboja, Semenanjung Malaka, dan Indonesia.

Untuk alasan itu, kemunculan aroweli sore itu menjadi begitu istimewa. Kehadirannya seolah melengkapi kepuasan setelah menyaksikan puluhan burung lain yang terlihat sebelumnya.

Aroweli termasuk keluarga bangau besar dengan panjang tubuh mencapai 1 meter dan bentangan sayap hingga 1,5 meter. Ciri fisiknya mudah dikenali dengan tubuh putih mulus berbulu sayap hitam. Paruhnya panjang berwarna kuning dengan muka dan kaki berwarna merah.

Ekosistem lahan basah yang masih ”murni” di Rawa Aopa menjadi habitat ideal bagi aroweli yang gemar bermigrasi. ”Selain aroweli, burung migrasi yang kerap terlihat di sini adalah jenis pelikan australia,” ujar Mustari. Pelikan biasa tampak di Rawa Aopa sekitar Juni-Juli.

Surga burung air

Rawa Aopa merupakan bagian dari Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW), Sulawesi Tenggara. Selain rawa, terdapat pula ekosistem hutan bakau, sabana, serta hutan hujan tropis dataran rendah dan pegunungan.

Luas ekosistem Rawa Aopa sebenarnya mencapai 30.000 hektar, tetapi hanya sekitar 12.000 hektar yang berada dalam kawasan TNRAW. Luas total taman nasional itu 105.194 hektar (1,6 kali luas DKI Jakarta), yang masuk di empat wilayah kabupaten, yakni Konawe Selatan, Konawe, Kolaka, dan Bombana.

Rawa Aopa seolah menjadi surga bagi kehidupan burung air. Selain aroweli, terdapat 39 jenis burung air lain yang bisa disaksikan hidup bebas di sana, dengan sebagian besar masuk kategori dilindungi. Beberapa di antaranya adalah kuntul besar, cangak laut, blekok sawah, cekakak merah, belibis, pecuk ular, dan ibis hitam.

Burung-burung tersebut ”betah” menghuni di Rawa Aopa karena melimpahnya sumber makanan, seperti berbagai jenis ikan, serangga, cacing, ular, udang, dan kodok. Selain itu, suburnya tumbuhan yang hidup mengapung di permukaan rawa, seperti eceng gondok, pandan air, pakis air, dan teratai, juga menyediakan tempat berlindung dan berkembang biak yang nyaman.

Kepala Balai TNRAW Kholid Indarto mengatakan, kawasan itu telah ditetapkan sebagai salah satu kawasan penting lahan basah internasional oleh Konvensi Ramsar pada 6 Maret 2011. Konvensi Ramsar merupakan perjanjian antar-pemerintah tentang pelestarian lahan basah dunia.

”Rawa Aopa juga memegang peran vital sebagai salah satu sumber air bersih utama di daratan Sultra, termasuk untuk ibu kota Kendari,” kata Kholid. Rawa Aopa sendiri merupakan ekosistem rawa terluas di Pulau Sulawesi dan menjadi hulu tiga daerah aliran sungai, yakni Poleang, Roraya, dan Konaweha.

Ekosistem Rawa Aopa yang terletak di bagian utara TNRAW memiliki fungsi utama sebagai tempat tangkapan dan cadangan air. Pada waktu aliran sungai tinggi, air mengalir kembali ke rawa sehingga ia juga berfungsi sebagai danau pengatur aliran air dalam sistem sungai.

Akses

Rawa Aopa berjarak sekitar 80 kilometer atau 1,5 jam perjalanan mobil arah barat dari Kota Kendari. Kondisi jalan akses ke lokasi teraspal mulus. Kawasan Rawa Aopa termasuk dalam Wilayah I TNRAW yang berada di Kabupaten Konawe Selatan dan Konawe.

Pengunjung bisa mendatangi kantor Seksi Pengelolaan Taman Nasional TNRAW Wilayah I di Desa Pewutaa, Kecamatan Angata, di wilayah Konawe Selatan. Dari sana, pengunjung bisa menyewa perahu motor dan jasa pemandu untuk menelusuri rawa dengan biaya Rp 300.000. Satu perahu bisa memuat 10 orang. Jadi, akan lebih hemat jika datang dalam rombongan.

Pengunjung disarankan membawa teropong agar bisa lebih jelas mengamati aktivitas burung-burung air. Di tengah rawa juga terdapat pulau kecil bernama Pulau Harapan yang memiliki pos dan gardu pandang. Dari gardu setinggi 10 meter itu, mata pengunjung lebih leluasa ”menjelajahi” sekeliling rawa.

Namun, sayang, kondisi bangunan di pulau itu telah banyak rusak. Dermaga kayu yang tersedia tinggal menyisakan kerangka sehingga pengunjung harus sangat hati-hati saat melangkah. Andaikan terawat, lokasi itu sangat cocok untuk bersantai menikmati suasana rawa sambil piknik makan siang.

Selain mengamati burung, memancing juga bisa menjadi alternatif aktivitas di Rawa Aopa. Jenis ikan yang bisa dengan mudah didapat adalah gabus, lele, sepat, dan mujair. Banyak warga lokal mengandalkan mata pencarian dari menangkap ikan di sana. Maka, segeralah mengemas koper karena si cantik aroweli sudah menanti. (Mohamad Final Daeng)

Sumber: Kompas.com

id_IDIndonesian