Skip to content Skip to footer

Peringatan Hari Jadi Taman Nasional Aketajawe-Lolobata Bersama Kader Konservasi Maluku Utara

Keberadaan Taman Nasioanal Aketajawe-Lolobata (TNAL) di bumi Maluku Utara sudah mencapai satu dasawarsa. Taman nasional yang terletak di Pulau Halmahera itu berdiri sejak diterbitkannya Surat Keputusan Menteri Kehutanan untuk penunjukkan kawasan Taman Nasional Aketajawe-Lolobata di Maluku Utara pada tanggal 19 Oktober 2004. TNAL terbagi dalam dua blok, yaitu blok Aketajawe dan Lolobata.

Blok Aketajawe berada di Kabupaten Halmahera Tengah dan Kota Tidore serta sedikit di wilayah Halmahera Timur, sedangkan blok Lolobata berada dalam wilayah administratif Kabupaten Halmahera Timur. Keunikan Taman Nasional Aketajawe-Lolobata sangat beragam. Untuk fauna misalnya, taman nasional ini merupakan habitat bidadari halmahera Semioptera wallacii dan kakatua putih Cacatua alba. Selain itu, TNAL merupakan rumah suku asli Halmahera, Tobelo Dalam.

Kawasan taman nasional ini dikelola oleh Balai TNAL bekerjasama dengan berbagai pihak, termasuk di antaranya Burung Indonesia yang merupakan mitra tetap TNAL. Dalam rangka merayakan 10 tahun keberadaan kawasan taman nasional ini, Balai TNAL menggelar Kemah Konservasi bersama para kader konservasi yang tergabung dalam Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I).

FK3I yang beranggotakan sekitar 30 orang ini merupakan forum yang terdiri dari berbagai pihak seperti Bank Nasional Indonesia (BNI) Sofifi, guru-guru sekolah, mahasiswa pencinta alam Universitas Khairun Ternate (MAPALA UNKHAIR), pemandu wisata dan masyarakat umum.

Kegiatan kemah ini diadakan pada 17—19 Oktober 2014 di Resort Binagara, bumi perkemahan Akejawi, Desa Akejawi Kecamatan Wasile Selatan Kabupaten Halmahera Timur. Selain itu, kegiatan ini juga diikuti para kader konservasi dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Umum (SMU) di Wasile dan Binagara, Halmahera Timur sebanyak 23 orang, guru pendamping 8 orang dan mahasiswa 5 orang.

Tujuan dari kegiatan ini adalah memperkenalkan keragaman hayati TNAL kepada para peserta kegiatan agar peserta dapat lebih mencintai alam yang ada di sekitarnya. Kegiatan yang dilakukan dalam kemah konservasi ini meliputi diskusi keragaman hayati yang diberikan oleh Burung Indonesia, Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata dan pemandu lokal (Binagara), Mahroji yang banyak mengenal kekhasan flora dan fauna yang ada di dalam kawasan taman nasional.

Kegiatan lain termasuk mengenal langsung kawasan taman nasional yang berada di Binagara serta mengenal kegunaan tumbuhan yang ada sekaligus mengamati keragaman jenis burung di kawasan ini. Perjumpaan dengan bidadari Halmahera saat pengamatan burung tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta. “Akhirnya saya bisa berbangga diri kepada teman-teman karena sudah berhasil melihat burung bidadari,” tutur salah seorang peserta.

Selain itu, dalam kemah konservasi ini juga diadakan lomba antar para peserta untuk mengetahui pemahaman mereka terkaita flora fauna yang sudah dikenalkan selama kegiatan. Pada malam terakhir, acara ditutup dengan puncak kegiatan peringatan Sepuluh Tahun Taman Nasional Aketajawe-Lolobata bersama para staf BTNAL dan dipimpin oleh Kepala BTNAL, Sadtata Noor Adirahmanta Shut MT.*

id_IDIndonesian