Skip to content Skip to footer

Menjaga Asa Burung Perkotaan

Pekarangan rumah menjadi salah satu benteng terakhir bagi kehidupan burung-burung di perkotaan. Dengan semakin berkurangnya pepohonan dan habitat alami di tengah kota, taman dan pekarangan rumah menjadi pilihan utama bagi burung untuk singgah. Namun, tidak semua pekarangan rumah dapat menjadi tempat yang nyaman bagi burung.

Kebiasaan burung yang senang mendatangi jenis tumbuh-tumbuhan tertentu bisa menjadi acuan untuk menentukan tanaman yang tepat untuk ditanam di pekarangan. Pohon beringin dan tanaman buah-buahan seperti rambutan dan murbei, misalnya, dapat menarik burung pemakan buah atau biji seperti cucak kutilang dan burung cabai jawa. Sementara itu, burung pengisap madu lebih tertarik pada tanaman berbunga besar dengan warna mencolok seperti kembang sepatu, soka, atau kaliandra. Jangan khawatir, burung pemakan serangga juga bisa datang jika kita menanam tanaman seperti sengon, rambutan, atau jambu yang dapat menarik serangga.

Kebutuhan bersarang burung dapat dipenuhi dengan menanam pohon paku sarang burung, palem raja, pinang, atau cukup dengan menyisakan rumput kering di halaman rumah. Jika semua hal ini dilakukan oleh penduduk kota yang memiliki pekarangan, bukan tidak mungkin kicauan burung akan kembali menghiasi wajah kota metropolitan. Kehidupan burung di kota memang ada di tangan penduduk kota sendiri. Jika warga peduli dan mau menghadirkan “hutan mini” di pekarangan mereka, maka benteng kehidupan bagi burung pun akan semakin luas.

Kepudang kuduk-hitam, burung yang kini semakin sulit ditemukan di wilayah perkotaan.

Selain pekarangan, masih ada cara lain untuk melindungi burung, yaitu dengan menciptakan koridor hijau. Saat ini, kawasan hijau di Jakarta tersisa sedikit dan terisolasi satu sama lain, sehingga burung sulit berpindah dari satu blok kawasan hijau ke blok lainnya. Jika burung-burung terkurung di kawasan hijau yang kecil dan terisolasi, persaingan untuk mendapatkan makanan dan tempat bersarang akan menjadi sangat tinggi. Akibatnya, beberapa jenis burung mungkin akan punah di kawasan hijau tersebut.

Untuk mengatasi hal ini, penanaman pohon di sepanjang jalan dan pekarangan sangat penting untuk dijadikan koridor penghubung antara kawasan hijau yang satu dengan yang lainnya. Jakarta masih memiliki banyak tempat yang berpotensi dijadikan koridor hijau, seperti halaman hotel dan rumah sakit yang luas. Jika tempat-tempat seperti ini ditanami pepohonan, akan menjadi semacam batu loncatan bagi burung untuk berpindah dari satu blok kawasan hijau ke blok lainnya. Pengembangan koridor juga bisa dilakukan di jalur hijau yang sudah ada, jalur kereta, dan daerah aliran sungai. Yang pasti, koridor ini harus ditanami tumbuh-tumbuhan yang dapat mendukung kehidupan burung. Dengan usaha bersama dari penduduk kota, kita dapat menjaga asa burung perkotaan dan memastikan mereka tetap menjadi bagian dari kehidupan metropolitan yang kita cintai. Mari mulai dari pekarangan rumah kita, demi kelestarian burung di perkotaan.

id_ID