Skip to content Skip to footer

Penyadartahuan Burung Terancam Punah dan Khas Sumba

Bentang Alam Sumba Bagian Tengah (BA-SBT) merupakan bagian sangat penting bagi pembangunan dan kelestarian ekosistem Pulau Sumba. Dari 79 desa di BA-SBT dengan 95.000 penduduk yang hidup di dalamnya, Burung Indonesia melalui proyek “Kemakmuran Hijau” yang didukung Millenium Challenge Account Indonesia (MCA-Indonesia) berupaya meningkatkan kesadartahuan masyarakat mengenai nilai penting layanan alam dan keragaman hayati khas Sumba.

Sebagian besar warga di seluruh desa yang menjadi desa dampingan anggota Konsorsium Sumba Hijau—31 desa di antaranya berbatasan dengan Taman Nasional Manupeu Tanah Daru—sebelumnya sudah pernah mengikuti kegiatan penyadartahuan terkait pelestarian alam, perspektif pengelolaan sumber daya alam produktif dan lestari.

Program ini didahului oleh survei knowledge, attitude, practice (KAP). Salah satu hasil survei tersebut menyebutkan bahwa sebagian besar masyarakat di BA-SBT mengetahui bahwa Pulau Sumba merupakan satu-satunya rumah bagi kakatua jambul-jingga atau kakatua sumba (Cacatua sulphurea citrinocristata) yang terancam punah. Namun, sebagian besar tidak mengetahui bahwa ada jenis burung endemis dan khas Sumba lainnya hidup di sekeliling mereka, termasuk burung-burung paruh bengkok yang memiliki persebaran terbatas.

Untuk menambah dan menguatkan pengetahuan masyarakat mengenai keragaman burung di Pulau Sumba, program penyadartahuan proyek Kemakmuran Hijau menyirkulasikan banner informasi di ruang publik dan memasang papan informasi di sejumlah lokasi di Sumba Timur, Sumba Tengah, dan Sumba Barat agar masyarakat dapat menjaga keragaman burung-burung unik di Sumba tetap lestari. Selain itu, warga BA-SBT pun diajak memanfaatkan energi terbarukan agar kelestarian lingkungan dapat terjaga.

 

Sebagai bioindikator, burung terancam punah dan khas Sumba akan dipantau pada masa proyek berlangsung. Bergantung pada habitat hutan alam, survei burung akan menjadi pemutakhiran data di Sumba sekaligus menjadi acuan di masa yang akan datang terkait kondisi ekosistem di Sumba.

Pulau Sumba merupakan rumah bagi 240 jenis burung yang 11 di antaranya merupakan jenis burung endemis—terbanyak di Kepulauan Sunda Kecil. BirdLife International bersama Burung Indonesia telah mengidentifikasi sebanyak 38 Endemic Bird Area (EBA) dan 225 Important Bird Area (IBA) di seluruh Indonesia. Terdapat 6 IBA yang berada di Sumba: Yawila, Poronumbu, Manupeu Tanah Daru, Laiwangi Wanggameti, Tanjung Ngunju, dan Leku Melolo.

Burung Indonesia telah melakukan kegiatan penyadartahuan mengenai keragaman hayati di Pulau Sumba melalui berbagai aktivitas dan media seperti kampanye perlindungan kakatua sumba di desa-desa sekitar kawasan taman nasional, pembuatan buku muatan lokal untuk peserta didik tingkat sekolah dasar, dan penyebaran material penyadartahuan (roll banner dan billboard). Kegiatan ini berdampak pada penurunan kasus penangkapan kakatua sumba pada 10 tahun terakhir.

[layerslider id=”5″]

id_IDIndonesian