Skip to content Skip to footer

ABI Birding, Kunci Gerbang Pelesir Burung di Flores (Bagian 2)

Tak berbeda seperti pada 2016, umumnya pada 2017 para pengamat burung mulai berdatangan ke Flores pada periode Maret hingga November—baik perseorangan atau berkelompok. Tingkat kemampuan para pengamat burung pun bervariasi, mulai dari pemula hingga birdwatcher profesional. Biasanya, birdwatcher pemula mengamati burung secara langsung dan tidak melakukan pencatatan. Peralatan tempurnya pun cukup menggunakan binokular.

Bagi pengamat burung profesional, aktivitas pengamatan burung memerlukan persiapan dan alat yang mendukung. Om Sam mengatakan, sebagian besar birdwatcher profesional yang menggunakan jasanya biasa membawa peralatan mumpuni seperti teleskop, binokular, tripod, monopod, buku panduan lapangan, kamera, dan perekam suara untuk merekam suara burung. Sebab, selain mengidentifikasi jenis berdasarkan fisik, mereka juga biasa membedakan satu jenis burung dengan jenis lainnya berdasarkan tipe suara.

“Pengamat burung profesional sering melakukan pencatatan setiap jenis yang dijumpainya dan lebih lama tinggal di beberapa lokasi tertentu. Mereka juga biasanya sudah punya daftar burung yang menjadi target seperti burung-burung endemis dan sebaran terbatas, juga burung-burung yang dianggap kritis di alam,” katanya.

Khusus wilayah Flores, aktivitas pengamatan umumnya dilakukan lebih dari lima hari karena jarak satu lokasi ke lokasi lain terbilang cukup jauh. Pada 2017, lokasi pengamatan yang paling sering dikunjungi oleh tamu-tamu ABI Birding adalah Pulau Komodo. Di kawasan taman nasional ini sangat mudah untuk melihat kakatua-kecil jambul-kuning (Cacatua sulphurea) yang kini berstatus Kritis.

Selain di Pulau Komodo, aktivitas pengamatan pun cukup banyak berlangsung di sekitar kota Labuan Bajo. Di sekitar Desa Gorontalo dan Desa Nanga Nae, ia berhasil membawa tamunya menemukan burung-burung khas sebaran terbatas seperti pa’ok laus , celepuk maluku, kacamata wallacea, seriwang asia, dan jenis-jenis burung air. Gagak flores juga dapat ditemukan di sekitar kota Labuan Bajo. Sejumlah lokasi juga menjadi spot pengamatan menarik untuk mencari jenis-jenis burung yang tak ditemukan di belahan bumi lain selain di Flores.

Pota Wangka
Dapat ditempuh selama 30 menit dari Labuan Bajo, Pota Wangka adalah lokasi menjanjikan untuk melihat tiong emas, punai flores, gagak flores, serindit flores, perkici flores, dan nuri pipi-merah.

Puar Lolo
Meski lokasinya tak jauh dari Jalan Trans Flores, Puar Lolo merupakan lokasi untuk yang tepat untuk mengamati kehicap flores yang kini berstatus Genting (Endangered) terhadap kepunahan. Di Puar Lolo juga para pengamat dapat melihat burung-burung sebaran terbatas seperti anis kembang, anis nusa-tenggara, walik putih, kipasan flores, sikatan dada-merah, opior jambul, opior paruh-tebal, tesia timor, dan juga elang flores.

Danau Sano Nggoang
Sano Nggoang merupakan lokasi favorit yang direkomendasikan ABI Birding kepada para tamunya yang ingin mengamati burung. Di danau vulkanik terbesar di Nusa Tenggara Timur ini, Om Sam biasa mengantar tamunya melihat celepuk flores dan burung-burung sebaran terbatas. Sejumlah jenis burung migran pun dapat diamati di kawasan ini saat musim migrasi tiba.

Selain berpotensi mengamati burung-burung endemis dan menyaksikan panorama danau yang indah, akomodasi di Sano Nggoang pun terbilang cukup memadai. Di sini, para pengunjung dapat menginap di sejumlah homestay yang dikelola oleh penduduk setempat.

“Yang menarik di Sano Nggoang, ada satu lokasi dimana kita bisa menemukan tiga jenis celepuk sekaligus. Kalau hujan sore hari, tiga jenis celepuk ini sangat aktif,” kata Om Sam menceritakan temuannya itu.

Golo Lusang
Untuk mengamati burung di Golo Lusang, pengunjung perlu membayar tiket masuk sebesar Rp100.000/orang karena kawasan ini masuk ke dalam Taman Wisata Alam Ruteng. Pengamatan burung harus dilakukan sekitar pukul 06.00-10.00 pagi. Sejumlah jenis dapat teramati di kawasan ini seperti kancilan flores, kipasan flores, kacamata gunung, kacamata wallacea, walik putih, dan serindit flores yang biasa teridentifikasi saat terbang.

Ranamese
Jenis-jenis burung yang dijumpai di Ranamese hampir sama dengan yang ditemui di Golo Lusang. Bedanya, topografi Ranamese lebih landai dan pengunjung dapat mengeksplorasi hingga ke dalam hutan. Ranamese juga lokasi yang baik untuk melihat celepuk flores dan celepuk wallacea. Selain itu, sepah kerdil, sunda cuckoo, uncal buau, perling kecil, tesia timor, gelatik batu kelabu, kipasan flores dapat teramati di kawasan ini.

Poco Ranaka
Keragaman burung di Poco Ranaka serupa dengan Ranamese dan Golo Lusang. Namun, salah satu jenis yang tak luput dari target hampir setiap birdwatcher yang mengunjungi Poco Ranaka adalah cingcoang biru. Di Poco Ranaka, jenis ini hanya dapat dijumpai di daerah ketinggian. Di kawasan ini juga Om Sam biasa membawa tamunya melihat perkici flores.

Pagal
Dapat ditempuh sekitar satu jam dari Ruteng, Pagal adalah lokasi paling potensial untuk melihat serindit flores. Di Pagal banyak terdapat pohon beringin dan jenis pohon lain yang sangat disukai oleh jenis paruh bengkok, sehingga peluang untuk melihat serindit flores, nuri pipi-merah, betet-kelapa paruh-besar, lebih terbuka.

Kisol-Poco Ndeki
Para birdwatcher yang melakukan eksplorasi bersama ABI Birding selalu terkesan dengan Kisol. Lokasi ini memang tak pernah luput dikunjungi karena mereka berpotensi besar untuk melihat elang flores, gagak flores, celepuk wallacea, cabak maling, dan pergam punggung-hitam.

Kelimutu
Di mata wisatawan, Kelimutu memang lebih dikenal karena panorama danau vulkanik tiga warna. Namun di kalangan birdwatcher, Kelimutu merupakan lokasi yang menjanjikan untuk melihat elang flores, kancilan flores, celepuk wallacea, dan celepuk flores. Bahkan, Om Sam mengungkapkan, dua jenis celepuk tersebut sangat mudah untuk diamati di lokasi ini.

***

ABI Birding merupakan unit usaha yang khusus menjalankan aktivitas wisata pengamatan burung dan satwa liar lainnya di area kerja Burung Indonesia. Berdiri sejak 2016, unit ini bertujuan untuk mendukung aksi konservasi burung dan habitatnya di Indonesia. Informasi lengkap, hubungi: Email: s.rabenak@burung.org, Handphone: 0812-382-465-47

id_IDIndonesian