Skip to content Skip to footer

Ekonomi Hijau, Ekonomi Rendah Karbon

BOGOR, BURUNG INDONESIA-Kemitraan Global Birdlife Internasional telah menyerukan pemerintah di seluruh dunia menunjukkan kepemimpinannya untuk mengembalikan perekonomian global ke arah ekonomi yang berkelanjutan. Burung Indonesia, sebagai bagian dari kemitraan tersebut juga mengajak para pihak untuk menghargai hal-hal yang mendasar yang disediakan oleh keanekaragaman hayati dan layanan ekosistem serta kepentingan pelestarian alam bagi kemakmuran ekonomi dan pemberantasan kemiskinan.

”Konsep ekonomi hijau merupakan salah satu peluang bagi pengembangan upaya konservasi” ungkap M. Muslich, staf Program Konservasi, Burung Indonesia. Menurut Muslich, bahasa ekonomi dapat dengan mudah diterima oleh para pengambil keputusan di daerah yang sedang gencar-gencarnya melakukan pembangunan. Halmahera, misalnya, yang hampir seluruhnya merupakan daerah pemekaran, kini bahu-membahu membangun wilayahnya melalui berbagai bentuk pemanfaatan sumberdaya alam.

Muslich melanjutkan, upaya mendorong bergulirnya ekonomi hijau yang dilakukan Burung Indonesia di Halmahera dilakukan melalui dua aspek. Yaitu, program peningkatan kapasitas masyarakat melalui pengembangan usaha ramah lingkungan dan peningkatan kapasitas para pihak di daerah dalam pengelolaan tata guna lahan berkelanjutan. “Fokus perhatian kita pada pemanfaatan bentang alam hutan, karena hutan paling banyak menyimpan dan menjerap emisi karbon, juga menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati” jelas Muslich.

Dari segi keragaman hayati, Halmahera memiliki keanekaragaman jenis burung yang sangat tinggi yang hidup pada hutan-hutan alami. Bentang alam hutannya merupakan tempat hidup 25 jenis burung endemik, yang semuanya itu hanya dapat ditemukan di Maluku Utara.

Dalam upaya mewujudkan ekonomi hijau, Burung Indonesia pada 2012 ini telah memfasilitasi berbagai pelatihan untuk memperkuat kapasitas usaha melalui pelatihan ekonomi kreatif, kelembagaan, produksi bibit tanaman unggulan, diskusi peluang pendanaan usaha kecil, serta penyusunan rencana strategis usaha masyarakat di enam desa contoh di Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara.

Burung Indonesia juga memfasilitasi proses peningkatan kapasitas para pihak dalam pengelolaan sumber daya alam melalui pelatihan pemetaan, belajar antar penyuluh, dan studi banding pengembangan ekowsiata. Kegiatan peningkatan kapasitas tersebut diperkuat dengan berbagai kajian seperti analisisi tata guna lahan desa, studi ekonomi ekosistem dan keanekaragaman hayati, kajian ekonomi rumah tangga, juga kajian sistem penguasaan lahan.

Melalui ekonomi hijau pemerintah pusat dan pemerintah daerah diharapkan dapat menempatkan prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan seperti yang disebutkan pada agenda 21 pada posisi yang strategis. “Burung Indonesia juga berharap pemerintah daerah dapat memenuhi empat pilar pembangunan yang berkelanjutan yaitu pro growth, pro job, pro poor, dan pro environment” lanjut Muslich.

Indonesia, sebagai negara berkembang, telah menetapkan ekonomi hijau sebagai jalan tengah untuk memuluskan agenda penurunan emisi gas rumah kaca sekaligus untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Hal ini mengingat, Indonesia memiliki berbagai daftar menu pembangunan untuk mengejar ketertinggalan pembangunan perekonomian. Di sisi lain, Indonesia juga berkomitmen menurunkan emisi gas ruma kaca sebesar 26 persen tahun 2020 dengan biaya sendiri dan sebesar 41 persen dengan bantuan internasional. *

Keterangan lebih lanjut, hubungi :
M. Muslich
Network and Portfolio Development Officer – Conservation Program
Jl. Dadali No. 32, Tanah Sareal, Bogor
Phone: +62 251 8357 222
Fax: +62 251 8357 961
M: +62815 1141 6370
E-mail: m.muslich@burung.org

Catatan untuk Redaktur:

  • News Release ini diterbitkan Burung Indonesia terkait peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2012 pada 5 Juni. UNEP menetapkan tema Green Economy: “Does It Include You”. Kementerian Lingkungan Hidup telah menetapkan tema Hari Lingkungan Hidup (HLH) 2012 adalah “Ekonomi Hijau: Ubah Perilaku, Tingkatan Kualitas Lingkungan”.
  • Merujuk pada definisi UNEP (2012) Ekonomi Hijau atau yang sering disebut Ekonomi Rendah Karbon adalah pembangunan ekonomi yang menghasilkan peningkatan kesejahteraan manusia dan kesetaraan sosial, sementara secara signifikan mengurangi risiko lingkungan dan kelangkaan ekologis.
  • Varian ekonomi hijau telah banyak diwacanakan seperti perekonomian rendah karbon (low carbon economy), pembangunan rendah karbon (low carbon development), hingga pertumbuhan hijau (green growth). Pendekatan ekonomi hijau juga diharapkan mampu mengganti kebijakan lingkungan jangka pendek dan mampu menekankan aspek pelestarian lingkungan dan pertumbuhan ekonomi.
  • Burung Indonesia adalah organisasi nirlaba dengan nama lengkap Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia (Birdlife Indonesia Association) yang menjalin kemitraan dengan BirdLife International, Inggris. Burung Indonesia mengarahkan fokus pekerjaan pada pelestarian jenis-jenis burung yang terancam punah, termasuk berbagai jenis paruh bengkok yang banyak ditangkap dan diperdagangkan secara tidak sah.

{jcomments on}

en_US